Pasca Gempa M6,7 Sulteng, Polisi Patroli dan Atur Antrean BBM di Palu
Baca dalam 60 detik
- Polda Sulteng mengerahkan personel Samapta ke Sigi, Parigi Moutong, dan Palu untuk mengamankan wilayah pascagempa 6,7 magnitudo.
- Patroli difokuskan pada SPBU yang mengalami antrean panjang dan bangunan rawan runtuh, termasuk Kafe Paskop di Palu.
- Masyarakat diimbau waspada gempa susulan dan tidak menyebarkan informasi palsu yang dapat memicu kepanikan.
Gempa bumi berkekuatan magnitudo 6,7 yang mengguncang Sulawesi Tengah pada Rabu (17/6) mendorong Polda Sulteng meningkatkan patroli dan pemantauan di tiga daerah terdampak: Kabupaten Sigi, Parigi Moutong, dan Kota Palu. Langkah ini diambil untuk memastikan keamanan dan ketertiban masyarakat tetap terjaga pascagempa yang memicu kepanikan dan kerusakan material.
Kasubbid Penmas Bidang Humas Polda Sulteng Kompol Reky Moniung mengungkapkan bahwa personel Direktorat Samapta dikerahkan ke titik-titik yang mengalami peningkatan aktivitas warga. Salah satu prioritas adalah mengurai kemacetan di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Jalan Moh. Yamin dan Jalan I Gusti Ngurah Rai di Palu, di mana kendaraan mengantre panjang untuk mengisi BBM. Petugas juga mengecek kondisi bangunan yang terdampak, seperti Kafe Paskop di Jalan Tanjung Manimbaya, untuk mengantisipasi risiko runtuh akibat gempa susulan.
Selain pengaturan lalu lintas, personel memberikan imbauan kepada masyarakat dan pengelola usaha agar tetap siaga mengingat masih terjadi gempa susulan. Kompol Reky menekankan pentingnya kewaspadaan tanpa panik, serta mengingatkan warga untuk tidak mudah percaya pada informasi yang belum terverifikasi, terutama yang beredar di media sosial. "Kami mengimbau masyarakat agar tetap tenang, selalu waspada terhadap kemungkinan terjadinya gempa susulan, serta mengikuti arahan dari pemerintah dan petugas di lapangan. Jangan mudah terpengaruh informasi yang belum terverifikasi karena dapat menimbulkan kepanikan," ujarnya.
Bagi Indonesia, gempa di Sulawesi Tengah menjadi pengingat akan kerentanan wilayah timur terhadap bencana seismik. Palu sendiri masih membawa trauma dari gempa dan tsunami 2018 yang menewaskan ribuan jiwa. Meski gempa kali ini tidak memicu tsunami, dampak psikologis dan logistik tetap nyata, terutama pada ketersediaan BBM dan stabilitas bangunan. Kepolisian berperan sebagai garda depan dalam menjaga ketertiban, namun koordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan instansi lain masih diperlukan untuk pendataan kerusakan dan distribusi bantuan.
Kompol Reky menegaskan bahwa Polda Sulteng akan terus hadir memberikan pelayanan dan perlindungan. Ia berharap tidak ada lagi korban akibat gempa susulan dan situasi segera pulih. Pertanyaan yang kini mengemuka: seberapa cepat pemerintah daerah dapat memulihkan infrastruktur vital dan memastikan pasokan BBM tetap lancar di tengah kekhawatiran warga akan gempa susulan?



