Minat Global Bond Danantara Tembus Rp 18 Triliun, Sinyal Kepercayaan Investor Menguat
Baca dalam 60 detik
- Kunjungan roadshow Danantara ke empat negara berhasil mengumpulkan minat global bond hingga Rp 18 triliun, menunjukkan optimisme investor terhadap prospek ekonomi Indonesia.
- Menteri Investasi Rosan Roeslani menilai respons positif ini mencerminkan kredibilitas kebijakan hilirisasi dan stabilitas makroekonomi nasional.
- Keberhasilan ini berpotensi memperkuat posisi tawar Indonesia di pasar modal global dan membuka akses pendanaan yang lebih luas bagi proyek strategis.

Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus CEO BPI Danantara, Rosan Perkasa Roeslani, mengungkapkan bahwa minat investor global terhadap obligasi yang diterbitkan Danantara telah mencapai angka fantastis, yakni Rp 18 triliun. Angka ini terakumulasi dari rangkaian roadshow yang dilakukan di Hong Kong, Inggris, Singapura, dan Amerika Serikat.
Dalam pernyataannya, Rosan menegaskan bahwa tingginya minat tersebut merupakan indikator kuat bahwa kepercayaan pasar terhadap fundamental ekonomi Indonesia masih terjaga. โIni bukti bahwa investor asing melihat Indonesia sebagai destinasi investasi yang menjanjikan, terutama di tengah ketidakpastian global,โ ujarnya dalam program Squawk Box CNBC Indonesia, Rabu (17/6/2026).
Data Kunci:
- Total minat global bond Danantara: Rp 18 triliun.
- Negara yang dikunjungi: Hong Kong, Inggris, Singapura, dan Amerika Serikat.
- Penerbitan obligasi ini merupakan bagian dari strategi Danantara untuk mendanai proyek hilirisasi dan infrastruktur.
Roadshow yang berlangsung selama beberapa pekan terakhir ini tidak hanya menyasar investor institusi besar, tetapi juga dana pensiun dan manajer aset terkemuka. Menurut catatan Danantara, antusiasme tertinggi justru datang dari investor di Hong Kong dan Singapura, yang selama ini dikenal sebagai pusat keuangan Asia. Hal ini menunjukkan bahwa obligasi Indonesia dianggap memiliki daya tarik kompetitif dibandingkan instrumen serupa dari negara berkembang lain.
Bagi pasar domestik, keberhasilan ini menjadi angin segar di tengah tekanan global seperti kenaikan suku bunga acuan di negara maju dan fluktuasi harga komoditas. Analis menilai bahwa minat sebesar Rp 18 triliun dapat memperkuat cadangan devisa dan memberikan ruang fiskal yang lebih longgar bagi pemerintah. โIni sinyal bahwa Indonesia tidak hanya diandalkan sebagai eksportir komoditas, tetapi juga sebagai penerbit surat utang yang kredibel,โ kata seorang ekonom dari lembaga riset Jakarta.
Namun, tantangan tetap ada. Pasar obligasi global masih dibayangi oleh ketidakpastian arah kebijakan moneter The Fed dan perlambatan ekonomi China. Meski demikian, respons positif dari roadshow ini diharapkan dapat menjadi modal bagi Danantara untuk melanjutkan ekspansi pendanaan di semester kedua 2026. Pertanyaan selanjutnya adalah: apakah minat ini akan berujung pada realisasi pembelian yang signifikan, atau hanya sekadar eksplorasi awal?



