Malam Ricuh di UGM: Mahasiswa Kejar Nusron dan Budiman, Diskusi Berujung Chaos
Baca dalam 60 detik
- Diskusi publik di UGM berubah ricuh saat mahasiswa memprotes kehadiran tiga pejabat negara, memicu kejar-kejaran di kampus.
- Insiden dipicu oleh pertanyaan soal alih fungsi lahan di Papua dan video alat pelacak, yang memicu kemarahan massa.
- Pejabat yang terlibat menyayangkan penghentian dialog, namun menegaskan komitmen pemerintah terhadap keterbukaan.

Ratusan mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) menggeruduk dan mengejar tiga pejabat negara dalam sebuah diskusi publik di Joglo GIK UGM, Sleman, Senin (16/6) malam. Aksi yang semula diharapkan menjadi forum dialog sehat berubah menjadi chaos setelah mahasiswa memprotes keras kehadiran Menteri ATR/BPN Nusron Wahid, Wakil Menteri Pertanian Sudaryono, dan Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan (BP Taskin) Budiman Sudjatmiko.
Acara bertajuk "Kopdar Bareng Mas Dar" dengan tema "Pancasila Pemersatu Bangsa Indonesia" itu mulanya berlangsung kondusif. Ketiga pejabat mendapat giliran berbicara di atas panggung. Namun, ketegangan mulai terasa saat mereka diminta menanggapi video viral tentang eks Ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto, yang menemukan alat diduga pelacak di mobilnya. Saat Budiman tengah memberikan tanggapan, sirine pengeras suara dari luar panggung mendadak berbunyi, dan mahasiswa langsung merangsek naik ke panggung.
Dalam waktu singkat, panggung dikepung. Mahasiswa membentangkan spanduk bertuliskan "UGM Menolak Pengkhianat Reformasi" dan "UGM Menolak Penjilat Rezim". Teriakan "Revolusi" menggema. Budiman segera dievakuasi oleh satuan pengamanan kampus sebelum lemparan gelas air mineral terjadi. Para mahasiswa kemudian berteriak mencari Budiman, sementara puluhan lainnya menghadang mobil pejabat di pintu keluar timur GIK.
Setelah Budiman menghilang, Nusron dan Sudaryono keluar menemui mahasiswa. Mereka sempat duduk bersila di aspal dan berdialog. Seorang mahasiswa menagih tanggung jawab Nusron terkait alih fungsi ratusan ribu hektare lahan di Papua yang disebut menyebabkan warga tergusur. Jawaban Nusron yang mengajak mahasiswa melihat langsung ke Papua justru memantik emosi. Tak lama, keduanya bangkit dan berjalan menuju Bundaran UGM, dikejar massa. Meski mahasiswa berusaha menghalau dengan water barrier, rombongan pejabat berhasil lolos dan dievakuasi menggunakan mobil patwal.
Dalam keterangan resmi, Sudaryono menyampaikan permohonan maaf kepada mahasiswa yang tidak bisa mengikuti forum secara optimal. "Saya minta maaf kepada adik-adik mahasiswa yang sebetulnya ingin berdialog secara baik," ujarnya, Selasa (17/6). Ia membantah tudingan menghindari dialog, seraya menegaskan bahwa pemerintah di bawah Presiden Prabowo Subianto terbuka terhadap kritik. Budiman juga menyesalkan penghentian acara. "Seharusnya kita bisa berdialog dengan sehat dan lancar. Saya mau berdiskusi, tapi kondisinya sudah tidak kondusif," katanya. Budiman mengaku dievakuasi atas keputusan petugas keamanan demi mencegah eskalasi.
Insiden ini kembali menguji batas toleransi ruang dialog di kampus. Mahasiswa UGM, yang dikenal kritis, menunjukkan bahwa isu-isu seperti alih fungsi lahan dan dugaan pelanggaran etika pejabat masih menjadi api dalam sekam. Pertanyaan yang tersisa: akankah pemerintah benar-benar membuka diri terhadap kritik, atau justru semakin menjauh dari publik?



