El Nino 2026 Diprediksi Terkuat dalam 70 Tahun, Ancaman bagi Produksi Pangan Asia
Baca dalam 60 detik
- Badan Meteorologi Australia mengonfirmasi El Nino telah terbentuk di Pasifik tropis dan berpotensi menjadi yang terkuat sejak 1950.
- Fenomena ini diperkirakan membawa kekeringan ekstrem di Asia dan hujan berlebih di Amerika, mengganggu musim tanam di beberapa negara produsen pangan.
- Dampak terhadap Indonesia perlu diwaspadai, terutama pada sektor pertanian dan ketahanan pangan, mengingat pola cuaca serupa pernah memicu gagal panen.

Badan Meteorologi Australia (Bureau of Meteorology) memberikan peringatan serius: pola cuaca El Nino yang baru terbentuk di Samudra Pasifik tropis diprediksi menguat pada paruh kedua 2026 dan berpotensi menjadi salah satu yang terkuat dalam tujuh dekade terakhir. Peringatan ini muncul di tengah kekhawatiran global akan gangguan pasokan pangan, mengingat fenomena ini kerap memicu kekeringan di Asia dan banjir di Amerika.
Dalam pernyataan resmi yang dirilis Selasa (17/6), biro tersebut menyatakan suhu permukaan laut di wilayah Pasifik tengah telah melampaui ambang batas El Nino, sementara indikator atmosfer juga menunjukkan keselarasan dengan fenomena tersebut. โPrakiraan mengarah pada peristiwa El Nino yang kuat hingga sangat kuat, berdasarkan luasnya pemanasan di Pasifik tropis bagian tengah,โ demikian bunyi pernyataan itu. Sekitar separuh model iklim bahkan memperkirakan puncak peristiwa ini bisa masuk dalam jajaran tertinggi yang pernah tercatat sejak 1950.
El Nino, yang merupakan pemanasan periodik suhu permukaan laut di Pasifik tengah dan timur, dikenal membawa dampak kontras di berbagai belahan dunia. Bagi Australia, fenomena ini berarti penurunan curah hujan di musim dingin dan semi, terutama di pesisir timur, serta peningkatan suhu siang hari di wilayah selatan. Dampak ini sangat merugikan sektor pertanian Australia, yang merupakan salah satu eksportir gandum, gula, dan daging sapi terbesar di dunia. Pada peristiwa El Nino sebelumnya yang berlangsung dari 2023 hingga 2024, Australia mencatat periode tiga bulan terkering dalam sejarah.
Namun, dampak El Nino tidak berhenti di Australia. Para peramal cuaca memperkirakan peristiwa yang lebih kuat ini akan membawa curah hujan berlebihan ke kawasan Amerika, sementara Asia akan mengalami kondisi panas dan kering yang mengganggu penanaman tanaman pangan. Bagi Indonesia, yang berada di kawasan Asia Tenggara, ancaman kekeringan akibat El Nino menjadi perhatian serius. Musim kemarau yang lebih panjang dan lebih kering dari biasanya dapat mengancam produksi padi, jagung, dan komoditas perkebunan seperti kelapa sawit. Kementerian Pertanian Indonesia perlu bersiap dengan langkah antisipatif, seperti percepatan tanam dan penyediaan infrastruktur irigasi yang memadai.
Para ahli iklim mengingatkan bahwa intensitas El Nino tahun ini diperparah oleh pemanasan global yang terus berlanjut. โKombinasi antara El Nino yang kuat dan perubahan iklim dapat menciptakan kondisi cuaca ekstrem yang belum pernah terjadi sebelumnya,โ ujar seorang analis dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang enggan disebut namanya. Ia menambahkan bahwa Indonesia perlu meningkatkan sistem peringatan dini dan kesiapsiagaan bencana untuk menghadapi potensi gagal panen dan kebakaran hutan.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah sejauh mana negara-negara Asia, termasuk Indonesia, mampu beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan pola cuaca yang semakin tidak menentu. Apakah sistem pertanian dan ketahanan pangan nasional cukup tangguh untuk menghadapi guncangan iklim yang diprediksi akan semakin sering terjadi?



