G7 di Balik Layar: Rokok, Sepak Bola, dan Misteri Greenland Mengisi Sela Diskusi Para Pemimpin Dunia
Baca dalam 60 detik
- Mikrofon yang tetap menyala di sela-sela KTT G7 menangkap obrolan ringan para pemimpin, mulai dari kebiasaan merokok hingga hasil pertandingan sepak bola.
- Percakapan informal ini mengungkap dinamika personal di antara para pemimpin, termasuk referensi mengejutkan Donald Trump tentang Greenland yang memicu spekulasi.
- Momen-momen santai tersebut memberikan gambaran sisi manusiawi dari diplomasi tingkat tinggi, namun juga menyiratkan ketegangan yang belum terselesaikan.

Di tengah agenda serius membahas perang dan perdagangan, KTT G7 di Evian-les-Bains, Prancis, minggu ini menyuguhkan pemandangan tak terduga: obrolan ringan para pemimpin negara adidaya yang tertangkap mikrofon terbuka. Dari kebiasaan merokok hingga hasil imbang mengejutkan Piala Dunia, momen-momen ini menjadi pengingat bahwa diplomasi juga diisi dengan interaksi personal yang kadang lucu, kadang janggal.
Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni menjadi pusat perhatian saat Kanselir Jerman Friedrich Merz menanyakan apakah ia sudah merokok pagi itu. Meloni menjawab tegas bahwa ia sudah berhenti sejak 1 Mei. Para pemimpin dari Kanada, Inggris, Jepang, dan Uni Eropa langsung memberikan tepuk tangan meriah. Perdana Menteri Kanada Mark Carney bahkan bertanya apakah Meloni menggunakan plester nikotin. Momen ini menunjukkan bahwa perjuangan melawan kecanduan rokok menjadi isu yang bisa menyatukan para pemimpin dari berbagai latar belakang politik.
Piala Dunia 2026 yang tengah berlangsung di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada menjadi topik hangat lainnya. Saat makan siang, Presiden Prancis Emmanuel Macron dan koleganya bersorak "Allez les bleus!" untuk tim Prancis. Perdana Menteri Inggris Keir Starmer memuji hasil imbang 0-0 Cape Verde melawan juara bertahan Spanyol, menyebutnya "cukup luar biasa". Sementara itu, Presiden AS Donald Trump mengalihkan pembicaraan ke acara UFC yang ia gelar di Gedung Putih, memuji CEO UFC Dana White.
Momen paling misterius terjadi ketika Trump terdengar berbicara dengan Presiden Dewan Eropa Antonio Costa. "Kau paham?" kata Trump, lalu menatap Costa dan berkata, "Greenland." Percakapan ini memicu spekulasi karena Trump sebelumnya pernah mengancam akan membeli Greenland, wilayah semi-otonom Denmark, yang menuai kemarahan politisi Eropa. Tidak jelas apakah Trump sedang bercanda atau serius, namun referensi ini menunjukkan bahwa isu tersebut masih menjadi ganjalan dalam hubungan transatlantik.
Bagi Indonesia, momen-momen ini relevan karena menunjukkan bagaimana isu-isu ringan bisa menjadi alat diplomasi. Misalnya, pembicaraan tentang rokok bisa menjadi pintu masuk untuk kampanye anti-tembakau yang lebih luas, sementara sepak bola adalah bahasa universal yang bisa mempererat hubungan. Namun, referensi Greenland juga mengingatkan bahwa ketegangan geopolitik bisa muncul kapan saja, bahkan dalam obrolan santai. Indonesia, sebagai negara yang aktif di forum internasional, perlu memahami dinamika personal para pemimpin global untuk memprediksi arah kebijakan mereka.
Diplomasi hadiah juga mewarnai KTT ini. Macron memberikan sepeda khusus kepada ketujuh pemimpin untuk mempromosikan Kejuaraan Dunia Bersepeda di Alpen Prancis tahun depan. Sementara itu, Merz memberikan jersey timnas Jerman bernomor 47 kepada Trump, dengan pesan "Kita satu tim". Trump menerima jersey itu dengan senyum, meskipun ia dikenal tidak gemar bersepeda dan lebih suka golf. Momen-momen ini menunjukkan bahwa hadiah bisa menjadi simbol rekonsiliasi atau sekadar basa-basi diplomatik.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah apakah momen-momen ringan ini akan berdampak pada keputusan serius yang diambil para pemimpin. Ataukah ini hanya sekadar hiburan di sela-sela ketegangan? Yang jelas, hot mic di G7 kali ini membuka tabir sisi manusiawi para pemimpin dunia, yang jarang terlihat dalam pemberitaan resmi.



