IHSG Melonjak 4,12%, Asing Justru Jual Bersih: 10 Saham Ini Jadi Incaran Teratas
Baca dalam 60 detik
- IHSG ditutup melesat 247,31 poin ke 6.254,97 pada perdagangan Senin (15/6/2026), didorong aksi beli domestik.
- Investor asing mencatatkan net sell Rp105,86 miliar di seluruh pasar, namun tetap mengakumulasi sejumlah saham unggulan.
- Sepuluh saham dengan net foreign buy tertinggi menjadi indikasi sektor yang diminati asing di tengah volatilitas.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali pekan dengan lonjakan signifikan, ditutup menguat 4,12% ke level 6.254,97 pada perdagangan Senin (15/6/2026). Namun di balik reli tersebut, investor asing justru mencatatkan penjualan bersih, mengindikasikan strategi rotasi portofolio yang selektif.
Data Bursa Efek Indonesia menunjukkan nilai transaksi mencapai Rp30,06 triliun dengan volume 50,11 miliar saham. Sebanyak 633 saham berhasil menguat, sementara 133 saham melemah dan 193 saham stagnan. Aktivitas pasar yang tinggi ini mencerminkan optimisme pelaku pasar lokal, meskipun asing cenderung melakukan aksi ambil untung.
Investor asing tercatat melakukan penjualan bersih sebesar Rp105,86 miliar di seluruh pasar, dengan rincian net sell Rp107,13 miliar di pasar reguler dan aksi beli tipis Rp1,27 miliar di pasar negosiasi dan tunai. Fenomena ini lazim terjadi ketika IHSG mengalami kenaikan tajam, di mana asing memanfaatkan momentum untuk merealisasikan keuntungan.
Meskipun secara agregat asing melepas saham, terdapat sejumlah emiten yang justru diburu investor asing. Berdasarkan data Stockbit, sepuluh saham dengan net foreign buy tertinggi pada perdagangan Senin mencerminkan sektor-sektor yang dianggap masih prospektif, seperti perbankan, infrastruktur, dan konsumer. Langkah ini menunjukkan bahwa asing tidak keluar total dari pasar Indonesia, melainkan melakukan pergeseran ke saham-saham tertentu yang dinilai memiliki fundamental kuat dan prospek jangka panjang.
Bagi investor ritel Indonesia, pola pergerakan asing ini dapat menjadi sinyal untuk mencermati saham-saham yang tetap diminati di tengah tekanan jual. Sektor perbankan misalnya, kerap menjadi pilihan utama asing karena likuiditas tinggi dan dividen menarik. Sementara itu, emiten infrastruktur mendapat angin segar dari proyek strategis nasional yang terus berjalan.
Ke depan, pergerakan IHSG diperkirakan masih akan dipengaruhi oleh sentimen global, terutama kebijakan suku bunga bank sentral AS dan pergerakan harga komoditas. Jika asing terus melakukan aksi jual bersih, tekanan pada indeks bisa meningkat. Namun, dengan minat asing yang masih terfokus pada saham-saham tertentu, peluang rotasi sektor tetap terbuka lebar. Akankah reli IHSG berlanjut atau justru terkoreksi? Jawabannya akan bergantung pada konsistensi aliran dana asing dan sentimen domestik ke depan.



