Dua Prajurit Tewas dalam Latihan Granat: Investigasi Diluncurkan
Baca dalam 60 detik
- Dua anggota tentara Malaysia meninggal dunia saat mengikuti latihan lempar granat di Gurun, Kedah, akibat ledakan yang terjadi pada sesi latihan tempur.
- Panglima Angkatan Darat Malaysia, Jenderal Tan Sri Azhan Md Othman, memerintahkan penyelidikan menyeluruh dan menyampaikan duka cita kepada keluarga korban.
- Insiden ini memicu evaluasi ulang prosedur keselamatan latihan militer, dengan implikasi bagi negara tetangga seperti Indonesia yang juga memiliki program pelatihan serupa.

Dua prajurit TNI Angkatan Darat Malaysia tewas dalam sebuah latihan lempar granat di Kamp Hobart, Gurun, Kedah, pada Selasa pagi. Insiden yang terjadi pukul 10.57 waktu setempat itu langsung memicu perintah investigasi dari pimpinan tertinggi militer Malaysia.
Korban diidentifikasi sebagai Korporal Norazmi Abu Bakar dari Batalyon Keenam Resimen Melayu Kerajaan dan Prebet Siti Khadijah Sungip dari Skuadron Pertama Resimen Insinyur Kerajaan. Keduanya mengalami luka parah akibat ledakan granat saat mengikuti latihan peningkatan kemampuan tempur yang digelar Divisi Infanteri Kedua.
Meskipun segera dilarikan ke Rumah Sakit Sultan Abdul Halim di Sungai Petani, kedua prajurit dinyatakan meninggal dunia dalam perjalanan. Jenazah kemudian dibawa ke Rumah Sakit Sultanah Bahiyah di Alor Setar untuk menjalani otopsi.
Panglima Angkatan Darat Malaysia, Jenderal Tan Sri Azhan Md Othman, dalam pernyataan resmi menyatakan keprihatinan mendalam dan menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban. Ia memerintahkan investigasi penuh untuk mengungkap penyebab ledakan dan mengevaluasi prosedur keselamatan latihan.
Insiden ini menjadi pengingat akan risiko tinggi dalam latihan militer, terutama yang melibatkan bahan peledak. Malaysia, seperti halnya Indonesia, secara rutin menggelar latihan serupa untuk memelihara kesiapan tempur. Namun, kecelakaan semacam ini menimbulkan pertanyaan tentang standar keselamatan dan pengawasan yang diterapkan.
Kepala Polisi Distrik Kuala Muda, Asisten Komisioner Hanyan Ramlan, membenarkan kejadian tersebut. Sementara itu, Angkatan Darat Malaysia menegaskan bahwa semua aspek keselamatan latihan akan terus ditinjau dan ditingkatkan berdasarkan temuan investigasi. Langkah ini diharapkan dapat mencegah terulangnya tragedi serupa di masa depan.
Bagi Indonesia, insiden ini menjadi pelajaran berharga. Latihan granat dan bahan peledak lainnya juga menjadi bagian dari kurikulum TNI. Evaluasi prosedur keselamatan secara berkala, termasuk simulasi kondisi darurat, perlu diperkuat untuk melindungi personel. Pertanyaan yang muncul: apakah standar keselamatan di negara kita sudah cukup ketat untuk mencegah kecelakaan serupa?



