Obat GLP-1 Terbukti Tekan Risiko Empat Jenis Kanker Hingga 58%, Studi Ungkap
Baca dalam 60 detik
- Analisis data 229.000 pasien obesitas tanpa diabetes menunjukkan penurunan risiko kanker terkait obesitas hingga 41% pada pemakai GLP-1.
- Penurunan risiko tertinggi terjadi pada kanker endometrium (58%), mieloma multipel, pankreas, dan kolorektal—masing-masing di atas 50%.
- Temuan ini membuka peluang pencegahan kanker, namun para ahli mengingatkan perlunya studi prospektif jangka panjang sebelum rekomendasi klinis berubah.

Sebuah studi terbaru yang dipublikasikan di Annals of Oncology mengungkapkan bahwa obat golongan GLP-1—yang populer untuk menurunkan berat badan—berpotensi menekan risiko beberapa jenis kanker terkait obesitas hingga lebih dari separuh. Temuan ini menjadi angin segar di tengah meningkatnya penggunaan obat seperti Ozempic, Wegovy, Zepbound, dan Mounjaro pada pasien tanpa diabetes.
Penelitian yang dipimpin oleh Aparna Kamat, MD, dari Houston Methodist Hospital ini menganalisis data kesehatan lebih dari 229.000 orang obesitas yang tidak menderita diabetes. Sekitar 38% dari mereka menerima resep GLP-1 antara Desember 2014 hingga Juni 2025, sementara sisanya hanya menjalani konseling diet dan olahraga. Hasilnya, kelompok yang mengonsumsi obat berbasis semaglutide atau tirzepatide mengalami penurunan risiko keseluruhan kanker terkait obesitas sebesar 41%.
Yang lebih mencengangkan, penurunan risiko pada empat jenis kanker spesifik mencapai 50% atau lebih. Kanker endometrium mencatat penurunan tertinggi sebesar 58%, disusul mieloma multipel, kanker pankreas, dan kanker kolorektal. "Angka 58% untuk kanker endometrium sungguh luar biasa," ujar Kamat. "Jika ini terkonfirmasi dalam studi prospektif, cara kita memandang penyakit ini akan berubah total."
Kamat menekankan bahwa penelitian ini menjawab celah pengetahuan penting. Sebagian besar studi sebelumnya hanya berfokus pada pasien diabetes tipe 2, padahal kini mayoritas pengguna GLP-1 justru berasal dari kelompok non-diabetes yang lebih muda. "Merekalah yang mengalami peningkatan kanker terkait obesitas paling tajam dalam beberapa dekade terakhir," jelasnya. Meski demikian, ia mengingatkan bahwa studi ini belum membuktikan hubungan sebab-akibat. "Kami belum siap mengatakan obat ini mencegah kanker, tetapi temuan ini layak ditindaklanjuti secara serius."
Para ahli lain memberikan perspektif berimbang. David Greenberg, MD, dari Hackensack Meridian Jersey Shore University Medical Center, menyatakan tidak terkejut dengan hasil tersebut. Menurutnya, efek anti-inflamasi GLP-1—yang sudah dikenal dalam konteks kardiovaskular—turut berperan menekan risiko kanker. "Penurunan peradangan sistemik jelas berkontribusi, bukan sekadar penurunan berat badan," katanya. Sementara itu, Lauren Carcas, MD, dari Miami Cancer Institute, mengingatkan bahwa desain observasional studi ini rentan terhadap faktor perancu seperti status sosial ekonomi dan kebiasaan hidup. Ia juga menyoroti masa tindak lanjut yang hanya rata-rata dua tahun, sementara sebagian besar kanker terkait obesitas memiliki masa laten lebih panjang.
Bagi Indonesia, temuan ini membuka diskusi baru di tengah meningkatnya prevalensi obesitas dan kanker terkait. Obesitas telah menjadi faktor risiko utama untuk berbagai keganasan, termasuk kanker kolorektal dan payudara yang angkanya terus naik di Tanah Air. Meskipun obat GLP-1 belum lazim diresepkan untuk penurunan berat badan di Indonesia, potensi manfaatnya dalam pencegahan kanker patut menjadi perhatian regulator dan klinisi. Namun, Anton Bilchik, MD, dari Providence Saint John’s Cancer Institute, mengingatkan bahwa rekomendasi klinis untuk penggunaan GLP-1 semata-mata demi mengurangi risiko kanker masih terlalu dini. "Diperlukan penelitian jangka panjang yang lebih kokoh sebelum dokter dapat meresepkannya dengan percaya diri untuk tujuan tersebut," ujarnya.
Ke depan, pertanyaan terbesar yang mengemuka adalah: apakah efek perlindungan ini murni akibat penurunan berat badan, atau ada mekanisme langsung pada sel kanker? Kamat mengungkapkan bahwa reseptor GLP-1 ditemukan pada beberapa sel tumor, mengindikasikan kemungkinan aksi langsung obat. Jawaban atas pertanyaan ini akan menentukan apakah GLP-1 dapat menjadi alat pencegahan kanker yang revolusioner—atau sekadar efek samping yang menggembirakan dari terapi obesitas.



