ASUS ProArt GeForce RTX 5090 Meluncur di Eropa dengan Harga Rp60 Jutaan
Baca dalam 60 detik
- Kartu grafis ASUS ProArt GeForce RTX 5090 resmi dijual di Austria, Jerman, dan Swiss dengan banderol €3.499.
- GPU ini mengusung arsitektur NVIDIA Blackwell dengan memori GDDR7 32 GB dan performa 3.352 TOPS, menyasar kreator konten profesional.
- Harga selangit dan ketersediaan terbatas di Eropa awal menjadi sinyal bahwa pasar Indonesia kemungkinan akan menerima produk ini dengan markup lebih tinggi.

ASUS akhirnya merilis kartu grafis flagship terbarunya, ProArt GeForce RTX 5090, di pasar Eropa setelah pertama kali diperkenalkan pada Januari lalu. Produk yang menyasar kalangan kreator profesional ini mulai tersedia di Austria, Jerman, dan Swiss dengan harga eceran mencapai €3.499 atau setara sekitar Rp60,7 juta (kurs Rp17.350 per euro).
Kartu grafis ini menjadi salah satu yang paling bertenaga di kelasnya berkat penggunaan GPU NVIDIA Blackwell dengan 32 GB memori GDDR7 dan kemampuan komputasi 3.352 TOPS. Angka tersebut menempatkannya jauh di atas pendahulunya, menjanjikan akselerasi signifikan untuk rendering 3D, editing video resolusi tinggi, dan beban kerja AI generatif.
Dari segi pendinginan, ASUS membekali ProArt RTX 5090 dengan dua kipas Axial-tech berukuran 115 mm, vapor chamber, dan sistem liquid metal dual-flow. Kombinasi ini dirancang untuk menjaga suhu tetap rendah meski digeber dalam waktu lama. Tak ketinggalan, port USB Type-C disematkan untuk mendukung monitor modern dan transfer data berkecepatan tinggi. Desainnya pun tampil beda dengan aksen kayu cokelat yang memberi kesan premium dan elegan.
Bagi pasar Indonesia, kehadiran ProArt RTX 5090 di Eropa menjadi pertanda bahwa produk ini akan segera merambah kawasan Asia, termasuk Indonesia. Namun, dengan harga yang sudah selangit di Eropa, konsumen Tanah Air harus bersiap menghadapi banderol yang lebih tinggi akibat pajak impor, bea masuk, dan margin distributor. Sebagai perbandingan, pendahulunya, RTX 4090, saat ini dijual di kisaran Rp35–45 juta di Indonesia. Jika tren markup serupa terjadi, RTX 5090 bisa menembus angka Rp70–80 juta.
Menurut analis pasar teknologi, segmen kreator profesional di Indonesia—seperti desainer grafis, arsitek, dan editor video—semakin membutuhkan GPU berperforma tinggi seiring maraknya konten 4K/8K dan adopsi AI. Sayangnya, daya beli menjadi kendala utama. "Harga seperti ini jelas hanya terjangkau oleh studio besar atau individu dengan anggaran sangat longgar," ujar seorang pengamat industri. "Namun, bagi yang membutuhkan performa maksimal, opsi ini tetap menarik meski harus merogoh kocek dalam-dalam."
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah kapan ASUS akan membawa ProArt RTX 5090 secara resmi ke Indonesia dan berapa banderol yang akan dipatok. Jika mengikuti pola peluncuran sebelumnya, kemungkinan besar produk ini akan tiba dalam beberapa bulan ke depan. Namun, dengan tekanan inflasi dan fluktuasi nilai tukar rupiah, harga akhir bisa menjadi kejutan yang tidak menyenangkan bagi para kreator Tanah Air.



