Gempa M 6,7 Guncang Sulteng: Gubernur Anwar Hafid Imbau Warga Tenang, Prioritaskan Penanganan Darurat
Baca dalam 60 detik
- Gempa magnitudo 6,7 di Parigi Moutong memicu imbauan Gubernur Sulteng agar warga tidak panik dan waspada terhadap gempa susulan.
- Anwar Hafid, yang tengah bertugas di Jakarta, terus berkoordinasi dengan tim tanggap darurat dan kepala daerah untuk penanganan cepat.
- Prioritas utama meliputi evakuasi korban, pendirian posko pengungsian, dan dapur umum guna memenuhi kebutuhan dasar masyarakat terdampak.

Gempa bumi berkekuatan magnitudo 6,7 yang mengguncang Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, pada Selasa (16/6) langsung mendapat respons cepat dari pemerintah daerah. Gubernur Sulawesi Tengah Anwar Hafid mengeluarkan imbauan resmi agar masyarakat tetap tenang dan tidak terpancing kepanikan, meskipun gempa susulan masih terus terjadi.
Melalui video yang diunggah di akun Instagram pribadinya, Anwar menegaskan bahwa situasi masih dalam pemantauan ketat. Ia mengakui bahwa getaran susulan kerap menimbulkan kecemasan, namun ia meminta warga untuk mengedepankan kewaspadaan tanpa harus larut dalam ketakutan berlebihan. โKepada seluruh masyarakat Sulawesi Tengah, terkait gempa bumi yang baru saja terjadi dan hingga saat ini masih diikuti gempa susulan, saya mengimbau agar tetap tenang dan tidak panik,โ ujarnya.
Menariknya, Anwar saat itu masih berada di Jakarta untuk menjalankan tugas pemerintahan. Namun, ia memastikan bahwa koordinasi dengan tim tanggap darurat dan para kepala daerah di wilayah terdampak berjalan intensif. Ia menyebutkan bahwa dirinya terus memantau perkembangan situasi secara real-time dan telah berkomunikasi dengan jajaran cepat tanggap darurat di daerah. โSaya terus memantau perkembangan dan berkoordinasi dengan jajaran tim cepat tanggap darurat di daerah, termasuk bersama para kepala daerah,โ katanya.
Anwar berencana kembali ke Sulawesi Tengah pada malam harinya untuk meninjau langsung lokasi terdampak. Ia mengajak masyarakat untuk tetap waspada, mengikuti informasi resmi dari pemerintah, dan tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang belum terverifikasi. Langkah ini penting mengingat potensi penyebaran berita palsu yang kerap muncul pascagempa.
Dalam instruksinya, Anwar secara khusus memerintahkan Wali Kota Palu, Bupati Donggala, Bupati Parigi Moutong, dan Bupati Poso untuk segera mengambil langkah-langkah penanganan darurat. Ia menekankan bahwa prioritas utama saat ini adalah penanganan korban, penyediaan tempat pengungsian sementara, serta pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat. โKalau ada korban luka-luka dan sebagainya, itu yang harus lebih dulu ditangani. Kemudian dibuatkan posko sebagai tempat penampungan sementara dan segera didirikan dapur umum agar masyarakat bisa merasa lebih tenang,โ kata Anwar.
Langkah cepat ini mencerminkan kesiapsiagaan pemerintah daerah dalam menghadapi bencana, mengingat Sulawesi Tengah memiliki sejarah gempa besar, termasuk gempa dan tsunami Palu 2018 yang menewaskan ribuan jiwa. Pengalaman tersebut menjadi pelajaran berharga bagi aparatur sipil dan masyarakat dalam merespons guncangan serupa. Meski demikian, tantangan geografis dan aksesibilitas di beberapa daerah terdampak masih menjadi kendala yang harus diantisipasi.
Ke depan, efektivitas koordinasi antara pemerintah provinsi dan kabupaten/kota akan menjadi kunci dalam meminimalkan dampak gempa ini. Pertanyaan yang mengemuka adalah seberapa cepat bantuan dapat menjangkau warga di lokasi terpencil, dan apakah sistem peringatan dini serta edukasi kebencanaan sudah cukup membekali masyarakat untuk bertindak tepat saat gempa susulan terjadi.



