Menu MBG Dikeluhkan Tak Enak, Orang Tua di Depok Minta Dana Langsung Disalurkan
Baca dalam 60 detik
- Video viral di Depok memperlihatkan sisa MBG yang tidak dihabiskan siswa, memicu kritik terhadap kualitas dan penyajian makanan.
- Orang tua siswa mengeluhkan rasa hambar dan kemasan tidak menarik, menilai program gagal memenuhi selera anak.
- Sejumlah orang tua mengusulkan agar dana MBG dialihkan langsung ke keluarga untuk menyiapkan bekal sendiri.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8259372/original/024371700_1781498109-VID-20260615-WA0014.jpg)
Video berdurasi 32 detik yang merekam petugas Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) membersihkan tumpukan nasi dan lauk pauk utuh dari kotak makan Makanan Bergizi Gratis (MBG) di Pasir Putih, Sawangan, Depok, menjadi sorotan publik. Alih-alih dinikmati, jatah makan siang gratis untuk siswa itu justru berakhir di tempat sampah.
Rekaman yang beredar luas di media sosial itu memperlihatkan petugas SPPG mengumpulkan sisa makanan ke dalam wadah khusus. Peristiwa terjadi pada Jumat, 12 Juni 2026. Dalam video, perekam bersenandung, โNasi MBG dibuang-buang, sekolah enggak mau makan, MBG, MBG.โ Fenomena ini membuka diskusi mengenai efektivitas program MBG yang digadang-gadang untuk meningkatkan asupan gizi anak sekolah.
Rahmawati, salah satu orang tua siswa, mengungkapkan bahwa anaknya kerap membawa pulang kotak MBG dalam keadaan hampir penuh. โKalau menurut anak saya rasanya kurang enak,โ ujarnya saat dikonfirmasi, Senin (15/6/2026). Ia mengaku sempat mencicipi sendiri makanan tersebut dan mendapati rasanya hambar. โJelas saja anak kurang suka, pas saya coba memang rasanya seperti kurang bumbu,โ jelas Rahmawati.
Kritik juga datang dari Nurlita, orang tua siswa lainnya. Ia mengatakan anaknya mengeluhkan MBG yang tidak memiliki rasa. โKalau anak saya bilangnya tidak enak, karena enggak ada rasanya,โ tutur Nurlita. Keduanya sepakat bahwa kemasan MBG yang dinilai tidak menarik turut mempengaruhi minat anak untuk menghabiskan makanan. โGimana mau menarik, penyediannya saja kayak makanan di rumah sakit,โ tambah Rahmawati.
Rahmawati dan Nurlita mendesak pemerintah untuk mengevaluasi program MBG. Mereka mengusulkan agar dana yang dialokasikan untuk penyediaan makanan diserahkan langsung kepada orang tua siswa. โDari pada uangnya buat MBG, lebih baik diberikan kepada orang tuanya, nanti orang tuanya yang menyiapkan bekal makanan dari rumah buat di sekolah,โ ungkap Rahmawati. Nurlita menambahkan, โLebih baik kasih orang tuanya, karena orang tua lebih mengetahui kebutuhan makanan anak daripada dapur SPPG.โ
Program MBG yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan gizi anak sekolah justru menuai kritik karena dianggap tidak sesuai selera. Jika keluhan serupa muncul di berbagai daerah, pemerintah perlu mempertimbangkan ulang model distribusi, baik dari sisi kualitas makanan maupun mekanisme penyaluran. Akankah usulan orang tua untuk mengubah skema bantuan menjadi transfer tunai didengar?



