Anya Taylor-Joy Bergabung ke Middle-earth: Berperan sebagai Peri di The Hunt for Gollum
Baca dalam 60 detik
- Anya Taylor-Joy memerankan seorang elf dalam prekuel Lord of the Rings yang disutradarai Andy Serkis, menandai debutnya di jagat Tolkien.
- Film ini mengeksplorasi psikologi Gollum dari sudut pandang internal, terinspirasi oleh pendekatan Joker (2019) versi Todd Phillips.
- Proyek ambisius ini dijadwalkan rilis Desember 2027, dengan Peter Jackson sebagai produser dan sederet bintang baru seperti Kate Winslet dan Jamie Dornan.

Anya Taylor-Joy, aktris yang dikenal lewat perannya dalam serial The Queen’s Gambit, resmi bergabung dengan semesta The Lord of the Rings. Ia akan memerankan seorang elf dalam film prekuel berjudul The Hunt for Gollum, yang disutradarai oleh Andy Serkis—aktor yang juga kembali memerankan Gollum. Langkah ini menandai pertama kalinya Taylor-Joy menginjakkan kaki di dunia Middle-earth garapan J.R.R. Tolkien.
Menurut laporan The Hollywood Reporter, karakter yang dimainkan Taylor-Joy belum diungkap secara detail, namun dipastikan sebagai seorang elf. Film ini mengambil latar waktu di antara peristiwa trilogi The Hobbit dan The Lord of the Rings, berkisah tentang upaya Aragorn dan Gandalf mencari Gollum untuk mengungkap asal-usul cincin milik Bilbo. Sir Ian McKellen kembali sebagai Gandalf, sementara Elijah Wood memerankan Frodo.
Selain deretan pemain lama, The Hunt for Gollum juga menghadirkan wajah-wajah baru. Kate Winslet akan berperan sebagai Marigol, Jamie Dornan menggantikan Viggo Mortensen sebagai Strider, dan Leo Woodall memerankan Halvard—karakter orisinal yang tidak ada dalam novel Tolkien. Woodall sendiri menyebut peran ini sebagai “impian masa kecil” dalam wawancara dengan PEOPLE.
Uniknya, Peter Jackson mengungkapkan bahwa film ini terinspirasi oleh Joker arahan Todd Phillips. Dalam wawancara dengan IndieWire, Jackson menjelaskan bahwa mereka ingin mengeksplorasi psikologi Gollum dari sudut pandang internal, mirip dengan cara Joker menyelami karakter Arthur Fleck. “Kami punya cerita dari lampiran buku Tolkien, dan kami akan menceritakannya dari perspektif Gollum. Itu berarti kami harus masuk ke dalam kepalanya,” ujar Jackson. Namun, ia bercanda bahwa ia sendiri tidak ingin terlalu jauh masuk ke kepala Gollum—itu tugas Andy Serkis.
Jackson menambahkan bahwa naskah film ini diadaptasi dari lampiran di akhir novel The Lord of the Rings, yang berisi 50–60 halaman catatan Tolkien tentang latar belakang karakter dan cerita sampingan. Bagian tentang perburuan Gollum—termasuk masa kecilnya, usahanya mencapai Shire, pelacakan oleh para Ranger, hingga penangkapannya oleh Mordor—semua tercantum di sana. “Kami secara legal bisa mengadaptasi apa pun dari buku-buku Tolkien,” tegas Jackson.
Bagi penggemar di Indonesia, proyek ini menjadi angin segar di tengah menjamurnya tayangan fantasi. Meskipun belum ada kabar mengenai penayangan di bioskop Tanah Air, antusiasme komunitas penggemar Lord of the Rings di Indonesia—yang cukup aktif di media sosial—diprediksi akan tinggi. Film ini juga membuka peluang bagi industri kreatif lokal untuk belajar dari pendekatan adaptasi yang setia pada sumber namun berani mengeksplorasi perspektif baru.
Selain The Hunt for Gollum, Middle-earth masih akan kedatangan proyek lain: Stephen Colbert, mantan pembawa acara Late Show, tengah menulis skenario film Lord of the Rings baru bersama putranya, Peter Colbert. Film tersebut akan berfokus pada bab-bab dari The Fellowship of the Ring yang tidak sempat diadaptasi dalam trilogi asli. Dengan dua proyek ambisius ini, warisan Tolkien sepertinya masih akan terus hidup di layar lebar. Pertanyaannya, mampukah pendekatan psikologis Gollum menyamai kesuksesan Joker?



