Rosan Roeslani Buka Suara soal IHSG dan Rupiah Menguat: 'Ini Waktunya Beli'
Baca dalam 60 detik
- CEO Danantara Rosan Roeslani mengaitkan penguatan IHSG dan rupiah dengan perubahan persepsi investor global setelah roadshow ke lima kota besar dunia.
- Valuasi saham Indonesia dinilai murah pasca koreksi panjang, mendorong investor asing masuk ke pasar modal dan valuta asing.
- Pemerintah berkomitmen mempercepat deregulasi dan hilirisasi untuk menjaga momentum penguatan dan menarik investasi jangka panjang.

CEO Danantara Indonesia, Rosan Roeslani, mengungkapkan bahwa penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah dalam beberapa hari terakhir bukanlah kebetulan, melainkan hasil dari serangkaian langkah strategis pemerintah yang berhasil membalikkan persepsi investor global terhadap prospek ekonomi Indonesia.
Dalam konferensi pers di Kompleks Istana Kepresidenan, Senin (15/6/2026), Rosan menjelaskan bahwa Danantara baru saja menyelesaikan roadshow ke Hong Kong, Singapura, Boston, London, dan New York. Dalam perjalanan itu, tim Danantara bertemu dengan sekitar 122 investor internasional, termasuk mereka yang telah aktif berinvestasi di pasar modal Indonesia. Menurut Rosan, pertemuan tersebut menjadi titik balik untuk mengklarifikasi kebijakan pemerintah dan strategi investasi Danantara di tengah keraguan pasar sebelumnya.
“Kalau kita lihat beberapa hari terakhir ini, baik pasar modal maupun rupiah mengalami penguatan relatif cepat. Percepatan ini tidak akan terjadi kalau kita tidak melakukan apa-apa,” kata Rosan. Ia menekankan bahwa tantangan terbesar Indonesia selama ini lebih bersifat persepsi ketimbang fundamental ekonomi. “Fundamental kita secara jangka menengah panjang sangat baik. Bagaimana kita membalikkan persepsi momentum spiral down ini untuk kembali ke atas,” tambahnya.
Rosan juga menyoroti bahwa koreksi tajam yang terjadi sebelumnya justru membuat valuasi emiten Indonesia menjadi sangat menarik. “Koreksi kemarin selama hampir beberapa bulan ini menyebabkan pricing dari perusahaan kita menjadi sangat baik dan sangat murah. Fundamental kita bagus, perbankan bagus, dividen bagus, yield bagus, price to book juga berada di bawah harga pasar,” ujarnya. Kondisi ini, menurut Rosan, membuat investor global melihat Indonesia sebagai peluang investasi jangka panjang yang tak boleh dilewatkan. “Secara otomatis mereka melihat it's time to buy,” tegasnya.
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menambahkan bahwa pemerintah terus memperkuat kepercayaan pasar melalui berbagai kebijakan ekonomi. Dalam rapat bersama Presiden Prabowo Subianto, salah satu arahan utama adalah percepatan deregulasi dan penyederhanaan perizinan untuk meningkatkan daya saing investasi. Selain itu, program hilirisasi dan industrialisasi dipercepat guna memperkuat ekspor dan mengurangi ketergantungan impor. “Dalam iklim usaha dibutuhkan stabilitas. Kami mengajak seluruh masyarakat, pelaku pasar, dan pelaku ekonomi untuk bersama-sama memperkuat ekonomi kita,” kata Prasetyo.
Bagi investor Indonesia, penguatan ini menjadi sinyal bahwa kepercayaan asing mulai pulih. Namun, pertanyaan besarnya adalah: apakah momentum ini dapat bertahan dalam jangka panjang, atau hanya sekadar rebound sementara yang dipicu oleh aksi beli murah? Jawabannya akan sangat bergantung pada konsistensi pemerintah dalam menjalankan reformasi struktural dan menjaga stabilitas makroekonomi di tengah ketidakpastian global.



