Wali Kota Shimotsuma Ditemukan Tewas di Saluran Air, Polisi Duga Bunuh Diri
Baca dalam 60 detik
- Wali Kota Toyoji Sudo, 67 tahun, ditemukan tak bernyawa di saluran drainase di Ibaraki pada 15 Juni dini hari, diduga bunuh diri.
- Sudo baru menjabat setelah memenangi pemilu Maret 2026 dengan selisih tipis 262 suara, dan sebelumnya sempat mundur karena penyakit jantung.
- Pemilihan wali kota baru harus digelar dalam 50 hari ke depan, sementara wakil wali kota ditunjuk sebagai pelaksana tugas.

Wali Kota Shimotsuma, Toyoji Sudo, ditemukan tewas di sebuah saluran drainase di Prefektur Ibaraki pada Senin dini hari, 15 Juni 2026. Kepolisian setempat tengah mendalami dugaan bahwa politikus berusia 67 tahun itu mengakhiri hidupnya sendiri.
Jenazah Sudo pertama kali ditemukan oleh seorang petugas kepolisian sekitar pukul 00.50 waktu setempat di kawasan Yachiyo, sekitar dua kilometer di selatan kediamannya. Mobil pribadi Sudo dilaporkan terparkir tidak jauh dari lokasi penemuan. Keluarga Sudo sebelumnya melaporkan kehilangan ke kantor polisi Shimotsuma pada pukul 23.15 malam sebelumnya karena sang wali kota tak kunjung pulang.
Sudo baru menjabat sebagai wali kota setelah memenangi pemilihan Maret 2026. Ia mengalahkan petahana dua periode dengan margin tipis, hanya 262 suara. Sebelumnya, ia sempat mengumumkan pencalonan pada 2022 namun mundur karena mengalami gangguan jantung. Karier politiknya dimulai sebagai anggota Dewan Kota Shimotsuma sejak April 2002 hingga Januari 2026.
Sehari sebelum kematiannya, Sudo masih menjalani aktivitas kedinasan seperti biasa. Pada 14 Juni pagi, ia menghadiri latihan pencegahan kebakaran di Distrik Onokocho dan menyampaikan sambutan kepada warga. Seorang pegawai yang mengantarnya pulang sekitar pukul 09.15 mengatakan Sudo tampak seperti biasa, tidak menunjukkan keanehan. Namun, seorang pegawai kota lain mengungkapkan bahwa Sudo "tampak lelah karena tugas wali kota yang belum dikenalnya dan interaksi dengan dewan, tapi tidak tampak bermasalah." Seorang kenalannya menambahkan bahwa sejak menjadi wali kota, kesehatan Sudo menurun dan tekanan darahnya tinggi.
Di Jepang, tekanan jabatan publik kerap dikaitkan dengan kasus bunuh diri pejabat. Fenomena ini juga relevan di Indonesia, di mana beban kerja kepala daerah sering memicu stres dan gangguan kesehatan mental. Minimnya akses konseling dan stigma terhadap kesehatan mental di kalangan pejabat publik menjadi isu yang perlu mendapat perhatian serius. Kematian Sudo menjadi pengingat akan pentingnya dukungan psikologis bagi para pemimpin daerah.
Wakil Wali Kota Takashi Watanabe kini ditunjuk sebagai pelaksana tugas wali kota. Komisi pemilihan kota akan menggelar pemilihan wali kota baru dalam waktu 50 hari, sesuai ketentuan yang berlaku. Pertanyaan yang mengemuka: apakah sistem pendukung kesehatan mental bagi pejabat publik di Jepang dan Indonesia sudah memadai untuk mencegah tragedi serupa?



