Sigi Kembali Diguncang Gempa Magnitudo 4,0: Waspada Aktivitas Seismik yang Meningkat
Baca dalam 60 detik
- Gempa bumi berkekuatan magnitudo 4,0 melanda Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, pada Selasa siang dengan pusat di 45 km timur laut wilayah tersebut.
- BMKG mencatat gempa dangkal dengan kedalaman hanya 10 km, menjadikannya rentan dirasakan luas meski kekuatannya sedang.
- Kejadian ini merupakan rangkaian gempa yang mengguncang Sigi dalam beberapa hari terakhir, mengingatkan akan potensi bencana di kawasan rawan seismik.
Gempa bumi kembali mengguncang Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, pada Selasa (16/6/2026) siang, mengirimkan getaran yang dirasakan oleh sebagian warga. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan gempa bermagnitudo 4,0 terjadi pada pukul 11:48:07 WIB, dengan pusat gempa berada di 45 kilometer timur laut Sigi. Meski kekuatannya tergolong sedang, kedalaman yang hanya 10 kilometer membuat guncangan cukup terasa di permukaan.
Berdasarkan data BMKG, episenter gempa terletak pada koordinat 1,05 Lintang Selatan dan 120,11 Bujur Timur. Wilayah yang berpotensi merasakan getaran meliputi sebagian besar Kabupaten Sigi dan sekitarnya. Hingga berita ini diturunkan, belum ada laporan mengenai kerusakan bangunan atau korban jiwa. Namun, BMKG mengingatkan bahwa informasi awal masih bersifat sementara dan dapat berubah seiring kelengkapan data yang masuk.
Gempa ini merupakan yang kedua dalam waktu berdekatan di wilayah Sigi. Sehari sebelumnya, Senin (15/6/2026), gempa magnitudo 3,7 juga mengguncang lokasi yang tidak jauh berbeda. Pola beruntun ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan ahli geologi, karena dapat menandakan peningkatan aktivitas seismik di zona Sesar Palu-Koro, salah satu patahan paling aktif di Indonesia. Sesar ini membentang dari Sulawesi Tengah hingga ke Teluk Palu, dan menjadi sumber gempa besar yang meluluhlantakkan Palu pada 2018.
Bagi warga Sigi dan sekitarnya, rangkaian gempa ini menjadi pengingat akan pentingnya kesiapsiagaan. Wilayah Sulawesi Tengah memang berada di kawasan cincin api Pasifik yang rawan gempa. Pemerintah daerah bersama BMKG terus mengimbau masyarakat untuk tetap tenang, namun waspada terhadap potensi gempa susulan. Bangunan yang retak atau tidak kokoh sebaiknya segera diperiksa, dan jalur evakuasi harus selalu diketahui.
"Informasi ini mengutamakan kecepatan, sehingga hasil pengolahan data belum stabil dan bisa berubah seiring kelengkapan data," tulis BMKG dalam pernyataan resmi yang dikutip dari akun media sosialnya.
Ke depan, para ahli memperkirakan aktivitas seismik di Sigi masih mungkin berlanjut dalam skala kecil hingga menengah. Masyarakat diharapkan tidak mudah percaya pada informasi yang tidak jelas sumbernya, dan selalu merujuk pada data resmi BMKG. Pertanyaan yang kini mengemuka: apakah rangkaian gempa ini merupakan foreshock dari gempa yang lebih besar, atau sekadar aktivitas normal sesar? Hanya pemantauan berkelanjutan yang bisa menjawab.



