Francesca Jones Gagal Manfaatkan Dua Match Point di Nottingham Open
Baca dalam 60 detik
- Petenis Inggris Francesca Jones kalah tipis dari Talia Gibson setelah memimpin 5-3 di set penentuan.
- Jones menjalani pertandingan terpanjang dalam kariernya (3 jam 6 menit) dan harus mendapat perawatan medis dua kali.
- Kekalahan ini menambah daftar panjang petenis tuan rumah yang tersingkir lebih awal di Nottingham Open.

Petenis Inggris Francesca Jones harus mengakui keunggulan Talia Gibson setelah gagal memanfaatkan dua match point pada babak pertama Nottingham Open, Selasa (10/6). Dalam laga yang berlangsung tiga jam enam menit, Jones kalah 6-3, 5-7, 6-7 (4-7) di hadapan pendukung sendiri.
Pertandingan itu menjadi yang terpanjang sepanjang karier Jones. Petenis berusia 25 tahun itu menunjukkan perlawanan sengit setelah tertinggal satu set dan satu break. Ia bahkan sempat unggul 5-3 pada set ketiga dan dua kali berada dalam posisi match point saat memegang servis. Namun, Gibson yang berada di peringkat 66 dunia berhasil membalikkan keadaan dan memenangkan tie-break.
Jones mencatatkan 15 ace dan 75 persen first serve yang masuk, tetapi masalah fisik kembali menghantuinya. Ia dua kali memanggil dokter: pertama saat jeda antar set karena merasa pusing dan sesak napas, kedua pada kedudukan 5-5 di set ketiga akibat gangguan hidung. Meski demikian, ia tetap melanjutkan pertandingan.
Kekalahan ini menjadi pukulan bagi petenis tuan rumah yang tengah berjuang bangkit setelah cedera panjang. Sebelumnya, Emma Raducanu dan Katie Boulter mundur dari turnamen, sementara Harry Wendelken dan Jack Pinnington Jones juga tersingkir di babak pertama Queen's. Hanya di nomor ganda, Julian Cash dan Lloyd Glasspool berhasil mempertahankan gelar.
Bagi pecinta tenis Indonesia, performa Jones menjadi pengingat betapa tipisnya margin antara kemenangan dan kekalahan di level profesional. Mentalitas petenis Indonesia yang kerap menghadapi tekanan serupa bisa belajar dari kegigihan Jones yang terus berjuang meski dalam kondisi fisik tidak prima. Namun, pertanyaan yang muncul: apakah pendekatan medis yang lebih proaktif bisa mencegah gangguan fisik seperti yang dialami Jones?
Di sisi lain, kemenangan Gibson menunjukkan bahwa ketahanan fisik dan mental menjadi kunci di permukaan rumput. Ia mampu bangkit saat tertinggal dan memanfaatkan kelengahan lawan. Ke depannya, Jones perlu mengevaluasi strategi pengelolaan energi dan kondisi medisnya agar tidak kembali kehilangan momentum di momen krusial.
Dengan turnamen rumput yang padat menjelang Wimbledon, setiap kekalahan bisa menjadi pelajaran berharga. Akankah Jones mampu bangkit dan menunjukkan performa terbaiknya di turnamen berikutnya? Atau justru masalah fisik akan terus menghambat langkahnya?



