Dugaan Manipulasi Ekspor Sawit: Salim Ivomas Buka Suara, Maybank Kooperatif
Baca dalam 60 detik
- Salim Ivomas Pratama (SIMP) menyatakan belum mendapat konfirmasi resmi dari Maybank terkait pemeriksaan pegawai bank tersebut oleh Kejagung.
- Pemberitaan media Malaysia mengaitkan penyelidikan dengan dugaan manipulasi harga ekspor CPO yang melibatkan 10 produsen sawit utama RI.
- Maybank Indonesia menegaskan pemenuhan panggilan karyawan sebagai bentuk kooperatif terhadap otoritas, tanpa mengomentari substansi kasus.

PT Salim Ivomas Pratama Tbk (SIMP) akhirnya angkat bicara di tengah riuhnya pemberitaan mengenai dugaan keterlibatan mereka dalam kasus manipulasi ekspor sawit yang kini menjerat perhatian otoritas Indonesia. Melalui keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia, manajemen SIMP mengaku belum menerima konfirmasi resmi dari PT Bank Maybank Indonesia Tbk, yang sejumlah pegawainya diperiksa Kejaksaan Agung terkait transaksi ekspor perusahaan tersebut.
Dalam pernyataan tertulis yang dirilis Senin (15/6/2026), manajemen SIMP menegaskan bahwa mereka tidak bisa memberikan klarifikasi atas kebenaran berita yang beredar, termasuk laporan dari media Kontan berjudul "Maybank Buka Suara Soal Pemeriksaan Pegawai Terkait Transaksi Salim Ivomas". Alasannya, hingga saat ini belum ada informasi atau konfirmasi resmi dari pihak Maybank. "Perseroan tidak dapat memberikan klarifikasi atas kebenaran berita tersebut," tulis manajemen, seraya menambahkan bahwa mereka juga tidak bisa memastikan ada tidaknya kaitan dengan transaksi atau aktivitas ekspor SIMP.
Kendati demikian, manajemen SIMP menekankan bahwa pemberitaan ini tidak berdampak material terhadap operasional maupun kondisi keuangan perusahaan. "Tidak ada dampak material dari pemberitaan tersebut terhadap kegiatan operasional dan/atau kondisi keuangan Perseroan atau kelangsungan usaha Perseroan," demikian bunyi pernyataan resmi. SIMP juga memastikan tidak ada informasi material lain yang belum diungkap ke publik yang dapat memengaruhi harga saham atau kelangsungan usaha.
Kasus ini mencuat setelah media Malaysia ramai memberitakan bahwa otoritas Indonesia memeriksa sejumlah bankir Maybank Indonesia sebagai bagian dari penyelidikan dugaan aliran ekspor yang melibatkan Grup Salim. Laporan Bloomberg yang dikutip media seperti The Edge Malaysia menyebutkan bahwa "otoritas Indonesia menginterogasi para bankir di unit lokal Malayan Banking Bhd (Maybank) sebagai bagian dari penyelidikan mereka terhadap dugaan aliran ekspor yang melibatkan Grup Salim". Disebutkan pula bahwa para bankir tersebut membawa kotak-kotak dokumen ke kantor Kejaksaan Agung pekan lalu untuk dimintai keterangan sebagai saksi.
Penyelidikan ini merupakan bagian dari pengawasan yang lebih luas terhadap 10 produsen minyak sawit utama RI atas dugaan manipulasi harga ekspor minyak sawit mentah (CPO). Meski belum jelas apakah SIMP termasuk dalam daftar perusahaan yang diperiksa, pemberitaan ini tetap memicu kekhawatiran di pasar. Bagi investor dan pelaku industri sawit Indonesia, kasus ini menjadi pengingat akan ketatnya pengawasan pemerintah terhadap praktik ekspor komoditas strategis.
Menanggapi pemeriksaan tersebut, Maybank Indonesia memberikan pernyataan resmi bahwa pemenuhan panggilan karyawan merupakan bentuk sikap kooperatif perusahaan terhadap otoritas yang berwenang. Juru bicara Maybank Indonesia, Kamis (11/6/2026), menegaskan bahwa perseroan senantiasa mengikuti kaidah dan peraturan perundang-undangan yang berlaku, serta menerapkan prinsip kehati-hatian dalam memberikan fasilitas kredit. Namun, Maybank tidak memberikan komentar lebih lanjut mengenai substansi pemeriksaan atau kaitannya dengan SIMP.
Ke depan, publik dan pelaku pasar akan mencermati apakah penyelidikan ini akan merembet ke perusahaan-perusahaan sawit lainnya, dan bagaimana dampaknya terhadap harga saham emiten sawit di bursa. Pertanyaan yang masih menggantung: apakah dugaan manipulasi ini hanya kasus individual, atau mencerminkan praktik yang lebih sistemik di industri sawit nasional?



