Kerugian Akibat Penipuan Daring di Malaysia Capai RM3 Miliar, Polisi Serukan Kolaborasi Multisektor
Baca dalam 60 detik
- Malaysia mencatat 66.204 kasus penipuan daring pada 2025, meningkat 87% dibanding tahun sebelumnya, dengan kerugian mencapai RM2,97 miliar.
- Kepolisian Malaysia menekankan perlunya pendekatan terpadu yang melibatkan pemerintah, lembaga keuangan, dan masyarakat untuk menekan angka kejahatan siber.
- Aplikasi SemakMule dan Pusat Respons Scam Nasional menjadi andalan baru dalam upaya deteksi dan penanganan cepat kasus penipuan.

Kepolisian Malaysia mencatat lonjakan drastis kasus penipuan daring yang merugikan masyarakat hingga nyaris RM3 miliar sepanjang tahun lalu. Inspektur Jenderal Polisi Tan Sri Mohd Khalid Ismail menegaskan bahwa penanganan kejahatan ini membutuhkan sinergi lintas sektor yang kuat, bukan sekadar penegakan hukum semata.
Dalam peluncuran program PB Scam Ranger 2.0 kerja sama dengan Public Bank, Mohd Khalid mengungkapkan bahwa pada 2025 tercatat 66.204 laporan penipuan daring—melonjak 87 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Kerugian yang diderita korban mencapai RM2,97 miliar, dan angka tersebut terus bertambah seiring modus operandi sindikat yang kian canggih.
“Penipuan daring tidak hanya menggerus keuangan individu, tetapi juga merusak kepercayaan publik terhadap ekosistem digital dan stabilitas ekonomi negara,” ujar Mohd Khalid, Selasa (16/6). Ia menambahkan bahwa pihaknya terus memantau perkembangan teknologi dan mendorong penguatan regulasi sebagai efek jera.
Meski aparat telah menangkap 183 individu yang diduga terlibat dalam jaringan penipuan di Kuala Lumpur dan Lembah Klang, Mohd Khalid mengakui bahwa pendekatan represif saja tidak cukup. Ia menekankan pentingnya kewaspadaan masyarakat sebagai lini pertahanan pertama. “Kami mengimbau publik untuk selalu berhati-hati dalam setiap transaksi keuangan daring, jangan mudah tergiur tawaran mencurigakan, dan verifikasi informasi melalui saluran resmi,” imbaunya.
Untuk memudahkan deteksi dini, kepolisian Malaysia telah memperkenalkan aplikasi SemakMule yang memungkinkan pengguna memeriksa nomor rekening bank dan nomor telepon yang pernah dilaporkan dalam kasus penipuan. Selain itu, Pusat Respons Scam Nasional di Cyberjaya setiap hari menerima 500 hingga 700 panggilan dari masyarakat yang menjadi korban. Mohd Khalid menegaskan bahwa pemberantasan penipuan daring memerlukan pendekatan seluruh elemen masyarakat—mulai dari instansi pemerintah, lembaga keuangan, sektor swasta, hingga individu.
Dalam kesempatan terpisah, Mohd Khalid juga mengonfirmasi bahwa tiga laporan polisi telah diterima terkait tuduhan yang menghubungkan Datin Seri Rosmah Mansor dengan pembelian properti mewah senilai US$13 juta (RM52 juta) di New Jersey, Amerika Serikat. Pihak kepolisian telah memeriksa sejumlah saksi dan bekerja sama dengan Komisi Komunikasi dan Multimedia Malaysia. “Hasil penyelidikan awal menunjukkan akun media sosial yang menyebarkan tuduhan tersebut diduga palsu,” jelasnya.
Menanggapi kekhawatiran publik terhadap pengungsi Rohingya di Malaysia, Mohd Khalid memastikan pengawasan dan penegakan hukum berjalan ketat. Data menunjukkan bahwa hanya 89 individu Rohingya yang terlibat dalam berbagai pelanggaran antara 2024 hingga 2026—atau 0,2 persen dari total kejahatan nasional. “Angka ini sangat kecil dan membuktikan bahwa keterlibatan mereka dalam kriminalitas minimal,” pungkasnya.
Ke depan, efektivitas strategi pemberantasan penipuan daring di Malaysia akan sangat bergantung pada sejauh mana kolaborasi multisektor dapat diimplementasikan secara konsisten. Apakah inisiatif seperti PB Scam Ranger 2.0 dan aplikasi SemakMule mampu menekan laju kerugian yang terus meningkat? Atau justru modus baru akan terus muncul seiring percepatan digitalisasi?



