Ben Stokes Berpeluang Kembali Pimpin Inggris di Tes Ketiga Lawan Selandia Baru
Baca dalam 60 detik
- Kapten Inggris Ben Stokes dan bowler Gus Atkinson diperkirakan akan kembali bermain di Tes ketiga melawan Selandia Baru setelah penyelidikan pelanggaran jam malam selesai.
- Keduanya absen di Tes kedua karena insiden klub malam, namun ECB dikabarkan membuka jalan untuk reintegrasi mereka ke skuad utama.
- Kembalinya Stokes ke Trent Bridge menjadi momen simbolis, mengingat ia pernah bermain di stadion yang sama setelah bebas dari tuduhan affray pada 2018.

Ben Stokes, kapten tim kriket Inggris, diprediksi akan kembali memimpin skuadnya pada laga Tes ketiga melawan Selandia Baru di Trent Bridge pekan depan, setelah proses investigasi terkait pelanggaran jam malam di sebuah klub malam London menunjukkan titik terang. Meski pengumuman resmi belum dirilis, sumber internal ECB menyebut kemungkinan besar Stokes dan bowler Gus Atkinson akan diizinkan bermain mulai 25 Juni mendatang.
Keduanya dinyatakan tidak tersedia untuk Tes kedua di The Oval setelah kedapatan melanggar jam malam tengah malam saat merayakan kemenangan Inggris di Tes pertama. Insiden itu juga melibatkan seorang pemain rugby Saracens yang memukul anggota staf keamanan. Meski dilarang tampil bersama timnas, Stokes dan Atkinson tetap bisa bermain di kriket domestik—Stokes akan memperkuat Durham melawan Northamptonshire, sementara Atkinson tampil untuk Surrey.
ECB telah membantah adanya permintaan pengunduran diri dari Stokes, namun spekulasi soal masa depannya sebagai kapten terus mengemuka setelah Direktur Kriket Rob Key dan pelatih kepala Brendon McCullum tidak secara eksplisit mendukungnya. Joe Root, yang menggantikan sebagai kapten sementara, menyatakan akan menjalankan peran itu secara "per laga".
Kembalinya Stokes ke Trent Bridge akan menjadi momen penuh lingkaran. Pada 2018, ia bermain di stadion yang sama setelah dinyatakan tidak bersalah atas tuduhan affray di luar klub malam Bristol. Kini, ia kembali menghadapi situasi serupa, namun dengan tekanan yang lebih besar karena posisinya sebagai kapten dan panutan tim.
Bagi penggemar kriket di Indonesia, perkembangan ini menarik karena menunjukkan bagaimana disiplin dan etika menjadi sorotan utama di olahraga profesional. ECB yang dikenal ketat dalam menegakkan aturan, kali ini tampak memberikan kelonggaran—sebuah sinyal bahwa nilai pemain kunci seringkali dipertimbangkan dalam keputusan. Namun, langkah ini juga menuai kritik dari sejumlah pihak, termasuk legenda kriket Ian Botham, yang menilai pelanggaran Stokes tidak bisa dianggap enteng.
Analis olahraga menilai bahwa kembalinya Stokes bisa menjadi faktor penentu bagi performa Inggris di sisa seri. Tanpa kehadirannya, Inggris kesulitan di Tes kedua dan berada dalam tekanan. Dengan Stokes di lapangan, dinamika tim berubah drastis—baik dari segi taktik maupun mental. Pertanyaannya, apakah publik dan manajemen siap menerima kembali seorang kapten yang baru saja melanggar aturan? Atau justru ini menjadi titik balik bagi Stokes untuk membuktikan dirinya layak memimpin?



