Glukosamin, Suplemen Sendi Populer, Terkait dengan Percepatan Demensia dan Risiko Kematian
Baca dalam 60 detik
- Studi di Nature Metabolism menemukan glukosamin meningkatkan hiperglikosilasi di otak, proses yang merusak sel saraf dan memperburuk Alzheimer.
- Analisis data lebih dari 50.000 pasien menunjukkan konsumsi glukosamin setelah diagnosis demensia meningkatkan risiko kematian hingga 25%.
- Para ahli menekankan perlunya konsultasi dokter sebelum mengonsumsi suplemen, karena belum ada bukti manfaat glukosamin untuk kesehatan otak.

Suplemen glukosamin yang banyak dikonsumsi untuk meredakan nyeri sendi justru berpotensi mempercepat progresivitas demensia dan meningkatkan angka kematian, demikian temuan studi terbaru yang dipublikasikan di jurnal Nature Metabolism. Penelitian ini mengungkap bahwa glukosamin dapat memicu hiperglikosilasi—proses penambahan gula berlebih pada protein di otak—yang telah diketahui terkait dengan kerusakan sel saraf pada penyakit Alzheimer.
Glukosamin, suplemen populer untuk osteoartritis, dikonsumsi oleh sekitar 6-7% orang berusia di atas 70 tahun di Amerika Serikat, baik dengan resep maupun tanpa resep. Namun, efektivitasnya dalam meredakan nyeri sendi masih diperdebatkan karena minim bukti ilmiah. Kini, kekhawatiran baru muncul setelah para peneliti menganalisis jaringan otak post-mortem dari pasien Alzheimer dan menemukan peningkatan produksi glikan—molekul karbohidrat yang menempel pada protein dan mengubah fungsinya. Semakin lanjut stadium Alzheimer, semakin tinggi produksi glikan ini.
Harris A. Gelbard, MD, PhD, Direktur Center for Neurotherapeutics Discovery di University of Rochester Medicine, yang tidak terlibat dalam penelitian, menilai temuan ini cukup kuat untuk mendefinisikan hubungan antara usia awal konsumsi glukosamin dan jenis demensia tertentu. "Terutama terkait temuan percepatan mortalitas, karena pasien demensia onset lambat bisa hidup relatif lama meski dalam kondisi kognitif terganggu," ujarnya. Gelbard menjelaskan bahwa hiperglikosilasi meningkatkan beban molekul gula N-glikan di otak, yang mengganggu pemrosesan metabolik dan sinapsis, terutama di area belajar dan memori. Akumulasi N-glikan ini dapat menghancurkan sinapsis dan memicu siklus peradangan yang merusak otak.
Peneliti juga melakukan eksperimen pada tikus yang direkayasa secara genetik untuk mengembangkan Alzheimer. Mereka menemukan pola hiperglikosilasi serupa dengan otak manusia, terutama di area memori dan pemrosesan kognitif. Ketika pembentukan glikan dihambat, tikus menunjukkan peningkatan performa dalam tes memori. Namun, Gelbard mengingatkan bahwa model tikus 5xFAD mewakili demensia onset dini yang agresif, yang hanya sebagian kecil dari kasus Alzheimer pada manusia.
Courtney Kloske, PhD, direktur keterlibatan ilmiah untuk Alzheimer's Association, menekankan bahwa temuan ini belum membuktikan hubungan sebab-akibat. "Hasil ini tidak boleh diartikan sebagai rekomendasi untuk memulai atau menghentikan glukosamin tanpa konsultasi dengan tenaga kesehatan," ujarnya. Ia menambahkan bahwa pola makan sehat dan nutrisi seimbang lebih berperan dalam mendukung kesehatan otak, dan tidak ada suplemen tunggal yang terbukti mencegah atau menyembuhkan Alzheimer.
Bagi masyarakat Indonesia, temuan ini menjadi peringatan penting mengingat konsumsi suplemen glukosamin cukup marak, terutama di kalangan lansia. Banyak yang membelinya tanpa resep dokter, mengandalkan klaim manfaat untuk sendi. Namun, belum ada regulasi ketat terkait suplemen ini di Indonesia, sehingga konsumen perlu lebih waspada. Para ahli menyarankan agar pasien dengan riwayat keluarga demensia melakukan pemantauan ketat dan berkonsultasi dengan dokter sebelum mengonsumsi suplemen apa pun.
Ke depan, penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memahami mekanisme glukosamin pada otak manusia, terutama pada populasi dengan risiko demensia. Pertanyaan yang mengemuka: apakah risiko ini hanya berlaku pada pasien yang sudah mengalami gangguan kognitif, atau juga pada individu sehat? Sampai ada jawaban pasti, langkah bijak adalah tidak mengonsumsi suplemen secara sembarangan dan selalu mengedepankan konsultasi medis.



