Anthropic Tarik Model AI Terbaru dari Peredaran: Kepatuhan pada Aturan Ekspor AS yang Kontroversial
Baca dalam 60 detik
- Perusahaan AI Anthropic menonaktifkan model Fable 5 dan Mythos 5 setelah menerima arahan dari pemerintah AS untuk mencegah akses oleh warga asing.
- Langkah ini merupakan penerapan pertama dari kerangka kerja keamanan nasional yang ditetapkan melalui perintah eksekutif Trump, meskipun Anthropic mengkritik prosesnya yang dianggap tidak transparan.
- Kebijakan ini berpotensi mempengaruhi akses global terhadap teknologi AI canggih, termasuk di Indonesia, yang bergantung pada model open-source untuk inovasi lokal.

Perusahaan kecerdasan buatan terkemuka, Anthropic, secara mendadak menarik dua model AI terbarunya—Fable 5 dan Mythos 5—dari akses publik pada Jumat lalu. Langkah ini diambil setelah perusahaan menerima arahan langsung dari pemerintahan Trump yang melarang penggunaan teknologi tersebut oleh warga negara asing, menandai intervensi pemerintah paling agresif dalam pengawasan AI.
Keputusan tersebut menjadi ujian pertama bagi kerangka kerja keamanan nasional yang baru diteken Presiden Trump sepuluh hari sebelumnya. Melalui perintah eksekutif, pemerintah AS kini memiliki wewenang untuk meninjau risiko keamanan dari sistem AI tercanggih hingga sebulan sebelum dirilis ke publik. Meski partisipasi pengembang bersifat sukarela, Anthropic menjadi sasaran pertama yang dipaksa mematuhi aturan tersebut.
Dalam pernyataan resminya, Anthropic menyatakan ketidaksetujuan terhadap cara pemerintah menangani masalah ini. Perusahaan mengaku menerima arahan tanpa penjelasan spesifik mengenai kekhawatiran keamanan nasional yang mendasarinya. “Kami percaya pemerintah harus memiliki kemampuan untuk memblokir penyebaran yang tidak aman, sebagai bagian dari proses hukum yang transparan, adil, jelas, dan berdasarkan fakta teknis. Tindakan ini tidak mematuhi prinsip-prinsip tersebut,” tegas perwakilan Anthropic. Perusahaan menyebut insiden ini sebagai “kesalahpahaman” dan berharap dapat memulihkan akses ke model-model tersebut sesegera mungkin.
Implikasi dari kebijakan ini tidak hanya dirasakan di Amerika Serikat, tetapi juga berpotensi mengubah lanskap AI global. Bagi Indonesia, yang selama ini mengandalkan model AI open-source untuk mengembangkan solusi lokal di bidang kesehatan, pendidikan, dan pertanian, pembatasan akses terhadap model-model canggih seperti Fable 5 dan Mythos 5 dapat menghambat inovasi. Startup dan peneliti Indonesia sering memanfaatkan model dasar dari perusahaan AS untuk disesuaikan dengan kebutuhan domestik. Jika kebijakan serupa diterapkan secara lebih luas, Indonesia mungkin perlu mempercepat pengembangan AI mandiri atau menjalin kemitraan dengan negara lain yang tidak memberlakukan pembatasan serupa.
Para analis menilai bahwa langkah Anthropic ini mencerminkan ketegangan yang semakin meningkat antara inovasi teknologi dan keamanan nasional. Di satu sisi, pemerintah AS berupaya mencegah teknologi canggih jatuh ke tangan pihak yang tidak bertanggung jawab, terutama negara pesaing seperti China. Di sisi lain, perusahaan AI khawatir bahwa intervensi yang tidak transparan dapat menghambat kemajuan dan menciptakan ketidakpastian bagi ekosistem riset global.
Ke depan, pertanyaan besar yang mengemuka adalah apakah kebijakan ini akan menjadi preseden bagi negara lain untuk menerapkan kontrol serupa, atau justru memicu fragmentasi pasar AI dunia. Bagi Indonesia, momen ini bisa menjadi pengingat akan pentingnya kedaulatan teknologi di tengah persaingan geopolitik yang kian tajam.


