VAR Cetak Sejarah di Piala Dunia: Kartu Kuning 'Salah Orang' Dibatalkan, Simulasi Dihukum
Baca dalam 60 detik
- Wasit Danny Makkelie membatalkan kartu kuning untuk bek AS Tim Ream setelah VAR mendeteksi kesalahan identitas, lalu menghukum pemain Paraguay Miguel Almiron yang melakukan diving.
- FIFA memperkenalkan aturan baru yang memungkinkan VAR mengoreksi keputusan kartu jika terjadi mistaken identity, terlepas dari apakah pertandingan sudah dilanjutkan.
- Kejadian ini menandai pertama kalinya dalam sejarah Piala Dunia VAR digunakan untuk membatalkan kartu karena salah sasaran, membuka preseden baru dalam pengawasan pertandingan.

Pertandingan pembuka Grup D Piala Dunia antara Amerika Serikat dan Paraguay di SoFi Stadium, California, Selasa (21/6/2026) waktu setempat, tidak hanya menyajikan kemenangan meyakinkan tuan rumah 4-1, tetapi juga sebuah momen bersejarah yang melibatkan teknologi Video Assistant Referee (VAR). Untuk pertama kalinya dalam sejarah turnamen, VAR digunakan untuk membatalkan kartu kuning akibat kesalahan identitas pemain, sebuah insiden yang sempat membingungkan pemain, ofisial, dan puluhan ribu penonton di stadion.
Kekacauan terjadi pada babak pertama saat AS unggul 3-0. Bek veteran Tim Ream, yang pada usia 38 tahun 250 hari menjadi pemain tertua yang tampil untuk AS di Piala Dunia, dianggap melanggar gelandang Paraguay Miguel Almiron. Wasit asal Belanda, Danny Makkelie, langsung mengeluarkan kartu kuning untuk Ream. Namun, setelah tendangan bebas dieksekusi, Makkelie dipanggil untuk meninjau tayangan ulang di pinggir lapangan. Keputusan mengejutkan pun diambil: kartu kuning untuk Ream dicabut, dan sebagai gantinya, Almiron yang terbukti melakukan diving (pura-pura jatuh) mendapat hukuman serupa.
Yang membuat insiden ini unik adalah waktu intervensi. Biasanya, VAR tidak dapat meninjau keputusan setelah pertandingan dilanjutkan. Namun, FIFA telah memperkenalkan aturan baru khusus untuk turnamen ini atas permintaan Pierluigi Collina, kepala wasit FIFA. Aturan tersebut menyatakan bahwa jika seorang pemain mendapat kartu karena pelanggaran yang sebenarnya dilakukan oleh pemain lawan—atau dalam kasus ini, tidak ada pelanggaran sama sekali—keputusan dapat diubah meskipun permainan sudah berjalan kembali. Aturan ini dirancang untuk mengoreksi kesalahan identitas, bukan untuk meninjau kartu kuning pertama secara umum.
Mantan bek Everton dan Wales, Ashley Williams, yang menjadi komentator BBC Sport, mengaku heran dengan keputusan wasit yang membiarkan tendangan bebas tetap dilakukan sebelum akhirnya membatalkan kartu. "Mereka membiarkan tendangan bebas diambil, itu aneh, tapi jelas keputusan yang tepat. Ini pertama kalinya kami melihatnya, dan fair play," ujarnya. Sementara itu, mantan gelandang Inggris Danny Murphy menambahkan, "Setiap adaptasi aturan yang membuat diving mendapat hukuman lebih berat adalah hal yang baik."
Bagi Indonesia, insiden ini menjadi pengingat betapa cepatnya teknologi mengubah dinamika sepak bola modern. Meskipun VAR sudah digunakan di Liga 1 Indonesia sejak beberapa musim terakhir, aturan serupa mengenai mistaken identity belum diterapkan secara spesifik. PSSI dan operator liga dapat menjadikan momen ini sebagai bahan evaluasi untuk meningkatkan akurasi keputusan wasit di kompetisi domestik, terutama dalam mengatasi aksi diving yang kerap merugikan tim lawan. Selain itu, kejelasan prosedur VAR seperti yang diterapkan FIFA—termasuk kemungkinan meninjau keputusan setelah permainan dilanjutkan—bisa menjadi acuan bagi regulasi wasit di Indonesia.
Di luar kontroversi VAR, pertandingan itu sendiri menjadi panggung bagi penyerang AS, Folarin Balogun, yang mencetak dua gol dan menjadi pemain AS kedua yang mencetak lebih dari satu gol dalam satu pertandingan Piala Dunia. Gol penutup dari Giovanni Reyna pada menit akhir—sebuah tendangan melengkung dari luar kotak penalti—menjadi puncak penampilan impresif tuan rumah. Paraguay hanya mampu memperkecil kedudukan lewat gol Mauricio pada babak kedua.
Dengan kemenangan ini, AS memulai langkah positif di Grup D. Namun, pertanyaan yang muncul adalah: sejauh mana aturan baru VAR ini akan memengaruhi jalannya turnamen? Akankah wasit lebih sering menggunakan wewenang untuk mengoreksi kesalahan identitas, atau justru menimbulkan kebingungan baru? Yang jelas, sepak bola tidak akan pernah sama lagi setelah malam bersejarah di SoFi Stadium.
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/7336618/original/055797600_1780120424-20260530_105918.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8259396/original/012528100_1781498754-Nadeo_Argawinata_2.jpg)