BOJ Diprediksi Naikkan Suku Bunga ke Level Tertinggi 31 Tahun, Gubernur Absen
Baca dalam 60 detik
- Bank of Japan diperkirakan menaikkan suku bunga acuan menjadi 1,0% pada pekan ini, level tertinggi sejak 1995, meskipun Gubernur Kazuo Ueda dirawat di rumah sakit.
- Kenaikan ini didorong oleh tekanan inflasi dari harga minyak mentah yang tinggi, meskipun ada kesepakatan damai AS-Iran yang berpotensi menstabilkan pasokan energi.
- Keputusan tersebut berimplikasi pada pasar keuangan global, termasuk Indonesia, karena dapat memicu penguatan yen dan mempengaruhi arus modal asing ke negara berkembang.

Bank of Japan (BOJ) diperkirakan akan menaikkan suku bunga acuannya ke level 1,0 persen dalam pertemuan kebijakan dua hari yang dimulai Senin (16/6), menandai level tertinggi dalam 31 tahun terakhir. Langkah ini diambil di tengah meningkatnya risiko inflasi akibat melonjaknya harga minyak mentah, dan untuk pertama kalinya dalam sejarah modern, Gubernur Kazuo Ueda tidak akan hadir karena menjalani perawatan rumah sakit.
Kenaikan suku bunga dari 0,75 persen menjadi 1,0 persen akan menjadi yang pertama sejak Desember lalu, setelah BOJ mempertahankan suku bunga dalam tiga pertemuan sebelumnya. Keputusan ini merupakan bagian dari normalisasi kebijakan moneter yang telah berlangsung sejak 2024, setelah satu dekade pelonggaran luar biasa. Namun, absennya Ueda—yang dirawat sejak 9 Juni karena infeksi kista hati—menimbulkan dinamika unik dalam pengambilan keputusan.
Wakil Gubernur Ryozo Himino akan memimpin pertemuan tersebut, menggantikan Ueda yang tetap memberikan pandangan secara tertulis namun tidak memberikan suara. Jika hasil pemungutan suara imbang 4-4, Himino yang akan menentukan. Sementara itu, Wakil Gubernur lainnya, Shinichi Uchida—yang baru pulih dari perawatan leukemia—akan menjadi juru bicara dalam konferensi pers pasca-pertemuan pada Selasa (17/6). Para pelaku pasar akan mencermati pernyataan Uchida mengenai rencana kenaikan suku bunga ke depan.
Faktor eksternal turut mempengaruhi keputusan ini. Kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran yang mengakhiri perang berbulan-bulan diperkirakan akan menstabilkan pengiriman minyak melalui Selat Hormuz, mengurangi kekhawatiran gangguan pasokan yang merugikan Jepang yang miskin sumber daya alam. Namun, analis pasar memperingatkan bahwa harga minyak mentah kemungkinan tetap tinggi karena importir Jepang masih menghadapi kenaikan biaya transportasi dan bahan baku, seiring ketidakpastian implementasi kesepakatan.
Konteks domestik Jepang juga menjadi perhatian. Sebelum perang Iran, BOJ telah secara bertahap menaikkan suku bunga sebagai bagian dari normalisasi. Namun, kenaikan kali ini terjadi di tengah ketidakpastian upah dan daya beli masyarakat. Para pembuat kebijakan akan mengevaluasi dampak situasi Timur Tengah terhadap perekonomian yang bergantung pada impor, serta kesiapan perusahaan dalam menaikkan upah. Di sisi lain, rencana pengurangan pembelian obligasi pemerintah Jepang—yang dimulai Juli 2024—kemungkinan akan dihentikan sementara mulai April 2027, karena kenaikan imbal hasil obligasi jangka panjang yang cepat dapat mengganggu stabilitas pasar.
Bagi Indonesia, keputusan BOJ ini memiliki implikasi signifikan. Kenaikan suku bunga Jepang berpotensi memperkuat yen terhadap dolar AS, yang dapat memicu arus modal keluar dari negara berkembang seperti Indonesia. Di sisi lain, stabilitas harga minyak akibat kesepakatan AS-Iran dapat meredakan tekanan inflasi impor, mengingat Indonesia juga merupakan importir minyak. Namun, jika harga minyak tetap tinggi, beban subsidi energi Indonesia bisa membengkak. Pelaku pasar di Indonesia perlu mencermati pernyataan pasca-pertemuan BOJ untuk mengantisipasi pergerakan nilai tukar dan aliran modal asing.
Ke depan, pertanyaan besar adalah apakah BOJ akan melanjutkan siklus kenaikan suku bunga di tengah ketidakpastian global dan absennya pemimpin utama. Dengan Ueda yang diperkirakan kembali bertugas setelah dua minggu perawatan, arah kebijakan moneter Jepang akan sangat bergantung pada pemulihan kesehatannya serta perkembangan situasi geopolitik. Sementara itu, pasar akan terus mengawasi apakah langkah berani ini mampu mengendalikan inflasi tanpa mengorbankan pertumbuhan ekonomi yang masih rapuh.



