Crystal Dynamics Buka Suara soal Penggunaan AI di Tomb Raider: Legacy of Atlantis
Baca dalam 60 detik
- Crystal Dynamics mengonfirmasi penggunaan generative AI dalam pengembangan remake Tomb Raider pertama, memicu perdebatan di industri game.
- AI hanya dipakai untuk visualisasi awal aset game, sementara konten akhir tetap dikerjakan secara manual oleh tim artist.
- Pengembang menekankan AI sebagai alat bantu efisiensi, bukan pengganti kreativitas manusia, namun detail teknis masih dirahasiakan.

Crystal Dynamics akhirnya angkat bicara mengenai kontroversi penggunaan kecerdasan buatan generatif dalam pengembangan Tomb Raider: Legacy of Atlantis, sebuah remake dari seri pertama game legendaris tersebut. Dalam wawancara dengan Game Informer, sang direktur pengalaman, Jeff Adams, menjelaskan bahwa AI digunakan sebagai alat bantu untuk mempercepat proses pengambilan keputusan di tahap awal pengembangan.
Menurut Adams, AI generatif dimanfaatkan untuk memvisualisasikan objek dalam level game sebelum tim memutuskan apakah akan mengalokasikan sumber daya untuk membuatnya secara tradisional. โKami punya ide untuk sebuah objek, tapi belum yakin apakah layak dikerjakan. Dengan AI, kami bisa melihat gambaran kasar objek itu di dunia game. Jika hasilnya menjanjikan, barulah kami masuk ke pipeline konvensional,โ ujarnya.
Ia menegaskan bahwa seluruh konten akhir dalam game tetap dibuat oleh manusia. Tim konsep akan merancang ulang objek tersebut, lalu tim produksi membangunnya secara manual. โKami ingin memastikan semua konten yang sampai ke pemain adalah buatan manusia. Yang terpenting, tim kami memiliki alat untuk menciptakan pengalaman berkualitas setinggi mungkin,โ tambah Adams.
Namun, ketika Game Informer mencoba menggali lebih dalam mengenai implementasi teknis AI tersebut, seorang perwakilan Crystal Dynamics langsung menginterupsi dan mengakhiri sesi tanya jawab. Langkah ini memicu spekulasi bahwa studio mungkin enggan membuka praktik penggunaannya secara gamblang di tengah sensitivitas industri terhadap AI generatif.
Di Indonesia, perdebatan serupa mulai terasa di kalangan pengembang game lokal. Beberapa studio independen mulai bereksperimen dengan AI untuk pembuatan aset dan narasi, namun masih terganjal isu etika dan hak cipta. Penggunaan AI di Tomb Raider: Legacy of Atlantis bisa menjadi preseden bagi industri game Tanah Air, terutama dalam hal transparansi dan batasan penggunaan teknologi ini.
Pertanyaan besarnya: akankah Crystal Dynamics mempertahankan pendekatan hibrida ini di masa depan, atau justru akan memperluas peran AI seiring meningkatnya tekanan efisiensi? Jawabannya mungkin baru terungkap saat game dirilis dan para pemain bisa menilai sendiri kualitas hasil akhirnya.



