Putri Bajrakitiyabha Wafat: Pilar Kerajaan Thailand yang Tak Tergantikan
Baca dalam 60 detik
- Putri sulung Raja Thailand, Bajrakitiyabha, meninggal dunia setelah tiga setengah tahun koma akibat jatuh saat berolahraga dengan anjingnya.
- Sebagai diplomat dan pengacara, ia dikenal sebagai anggota kerajaan paling berprestasi dan pendorong reformasi peradilan pidana Thailand.
- Kepergiannya meninggalkan kekosongan besar dalam suksesi kerajaan, mengingat Raja Vajiralongkorn belum menunjuk pewaris resmi.

Thailand kehilangan salah satu figur paling cemerlang di lingkar istana. Putri Bajrakitiyabha, putri sulung Raja Maha Vajiralongkorn, meninggal dunia pada usia 47 tahun setelah menjalani perawatan intensif selama tiga setengah tahun dalam kondisi koma. Pengumuman resmi dari kerajaan Thailand menyebutkan sang putri mengembuskan napas terakhir di Rumah Sakit Chulalongkorn, Bangkok, akibat komplikasi dari cedera otak yang dideritanya sejak akhir 2022.
Kepergian Putri Bajrakitiyabha tidak hanya meninggalkan duka mendalam bagi keluarga kerajaan, tetapi juga menimbulkan tanda tanya besar mengenai masa depan suksesi monarki Thailand. Sang putri dikenal sebagai anggota kerajaan yang paling menonjol secara publik—seorang pengacara, diplomat, dan pembaru. Ia pernah menjabat sebagai duta besar Thailand untuk Austria dan menjadi motor reformasi di balik Undang-Undang Perlindungan Korban Kekerasan Dalam Rumah Tangga serta pengembangan sistem pemasyarakatan yang lebih manusiawi.
Menurut para pengamat kerajaan Thailand, posisi Bajrakitiyabha sangat strategis. Ia memiliki hubungan dekat dengan sang ayah dan dianggap sebagai jembatan antara tradisi monarki dan tuntutan modernitas. Meskipun hukum suksesi Thailand mengutamakan putra mahkota, hingga kini Raja Vajiralongkorn belum menunjuk pewaris resmi. Dengan wafatnya sang putri, skenario suksesi menjadi semakin rumit, terutama karena putra mahkota satu-satunya, Pangeran Dipangkorn Rasmijoti, masih berusia belasan tahun dan belum memiliki pengalaman publik yang signifikan.
Bagi Indonesia, dinamika monarki Thailand memiliki dampak tidak langsung namun signifikan. Thailand adalah mitra dagang utama ASEAN dan anggota kunci dalam kerja sama regional. Stabilitas politik Thailand, yang sering kali terkait erat dengan peran kerajaan, menjadi faktor penting bagi iklim investasi dan hubungan bilateral. Pergeseran dalam struktur kekuasaan kerajaan dapat memengaruhi kebijakan luar negeri Thailand, termasuk dalam forum ASEAN dan kerja sama ekonomi seperti IMT-GT (Indonesia-Malaysia-Thailand Growth Triangle).
Pakar hubungan internasional dari Universitas Gadjah Mada, Dr. Arif Wahyudi, menilai bahwa wafatnya Putri Bajrakitiyabha mempercepat kebutuhan akan kejelasan suksesi. “Thailand selama ini mengandalkan figur kerajaan sebagai perekat sosial. Tanpa pewaris yang jelas, potensi ketidakpastian politik bisa meningkat. Indonesia perlu mencermati hal ini karena stabilitas Thailand berdampak langsung pada rantai pasok regional dan arus investasi,” ujarnya.
Di sisi lain, publik Thailand masih berduka atas kepergian sosok yang dianggap sebagai “putri rakyat” karena kerja nyatanya di bidang hukum dan kemanusiaan. Upacara pemakaman kenegaraan direncanakan berlangsung selama lima hari di Grand Palace, dengan abu jenazah akan disemayamkan di Wat Ratchabophit. Pertanyaan yang kini mengemuka: akankah Raja Vajiralongkorn segera menunjuk pewaris, atau justru membiarkan mekanisme konstitusional berjalan? Jawabannya akan menentukan arah monarki Thailand dalam satu dekade ke depan.


