Janji Pulang ke Pelukan Istri: Kisah Pelaut India Tewas dalam Serangan AS di Teluk Oman
Baca dalam 60 detik
- Tiga pelaut India tewas ketika militer AS menyerang kapal tanker MT Settebello di Teluk Oman, yang diklaim membawa minyak Iran.
- Keluarga korban, termasuk istri Patnala Suresh, menanti pemulangan jenazah dan mempertanyakan mengapa tiga awak tak selamat sementara 21 lainnya dievakuasi.
- Insiden ini memicu protes diplomatik India ke AS dan menyoroti risiko tinggi bagi pelaut India di jalur pelayaran yang rawan konflik.

"Aku akan pulang dengan selamat, kita rayakan anniversary dengan meriah," itulah kalimat terakhir Patnala Suresh kepada istrinya, Patnala Bhargavi, sebelum kapal tanker MT Settebello dihantam serangan militer Amerika Serikat di Teluk Oman. Suresh, 39 tahun, adalah satu dari tiga pelaut India yang tewas dalam insiden yang memicu gelombang duka dan protes diplomatik dari New Delhi ke Washington.
Serangan pada Rabu pekan lalu itu merupakan bagian dari operasi blokade AS terhadap pengiriman minyak yang diduga terkait Iran. Menurut pernyataan resmi militer AS, kapal tanker itu telah mengabaikan peringatan berulang dan membawa minyak Iran. Namun, manajemen kapal membantah keras tuduhan tersebut, menyatakan bahwa kapal tidak memiliki hubungan dengan Iran dan tidak menerima peringatan apa pun sebelum diserang. Dua puluh satu awak lainnya berhasil dievakuasi, sementara tiga orang—termasuk Suresh—tewas di tempat.
Bagi Bhargavi, berita duka itu datang setelah dua hari tanpa kabar. Sejak 9 Juni, panggilan video dengan suaminya yang bekerja sebagai chief engineer terputus. "Saya kira hanya masalah sinyal karena mereka di laut," ujarnya. Namun, pada 11 Juni, manajemen kapal mengonfirmasi bahwa Suresh tewas saat sedang memeriksa kerusakan generator. Tidak ada kesempatan untuk melarikan diri, kata mereka.
Keluarga Suresh kini harus menghadapi kenyataan pahit. Ia adalah tulang punggung satu-satunya bagi dua putra dan dua keponakan yang diasuhnya setelah kakak ipar Bhargavi meninggal. "Saya tidak tahu bagaimana membiayai pendidikan dan membesarkan mereka," kata Bhargavi di kediamannya di Visakhapatnam, Andhra Pradesh. Momen pernikahan ke-15 yang seharusnya dirayakan bulan ini berubah menjadi duka.
Nasib serupa menimpa keluarga Aditya Sharma di Hamirpur, Himachal Pradesh. Rajesh Sharma, ayah Aditya, mempertanyakan mengapa putra semata wayangnya tidak bisa diselamatkan sementara 21 awak lain dievakuasi. "Saya ingin jenazahnya dikembalikan. Kami juga perlu tahu apa yang terjadi di menit-menit terakhirnya," katanya kepada BBC Hindi. Sementara itu, di Deoria, Uttar Pradesh, Ramji Chaurasia masih tak percaya putranya, Shivanand, yang baru delapan bulan bekerja sebagai fitter di perusahaan pelayaran asing, tewas dalam serangan itu.
Pemerintah India melalui Menteri Pelayaran Sarbananda Sonowal menyatakan sedang mengupayakan pemulangan jenazah dan menyebut kejadian ini sebagai "kehilangan besar" bagi komunitas maritim India. New Delhi juga telah memanggil diplomat senior AS untuk menyampaikan protes keras dan mendesak dihentikannya serangan terhadap kapal komersial di kawasan tersebut. Namun, bagi keluarga korban, protes diplomatik terasa jauh. Yang terpenting kini adalah bisa melihat wajah anak dan suami mereka untuk terakhir kalinya.
Insiden ini membuka kembali luka tentang risiko tinggi yang dihadapi pelaut India—yang merupakan salah satu pemasok tenaga kerja pelayaran terbesar di dunia—di jalur pelayaran yang rawan konflik. Dengan ketegangan AS-Iran yang masih memanas, muncul pertanyaan: apakah keselamatan pelaut sipil sudah menjadi prioritas dalam operasi militer di laut lepas?


