IHSG Ambruk 1,29% Setelah Sempat Menyentuh 6.010: Aksi Ambil Untung atau Sentimen Perang?
Baca dalam 60 detik
- Indeks harga saham gabungan (IHSG) berbalik melemah 1,29% ke 5.826,02 pada Kamis (11/6/2026), setelah sempat menguat hingga level 6.010.
- Tekanan jual dipicu oleh eskalasi konflik Iran-AS dan inflasi AS yang melonjak ke 4,2%, memicu aksi ambil untung investor.
- Investor asing tercatat net sell Rp3,13 triliun sehari sebelumnya, menambah sentimen negatif di tengah ketidakpastian suku bunga The Fed.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tiba-tiba berbalik arah ke zona merah pada perdagangan Kamis (11/6/2026) setelah sempat melesat ke level 6.010 di awal sesi. Hingga pukul 10.36 WIB, indeks merosot 1,29% atau 76 poin ke posisi 5.826,02, mematahkan reli penguatan dua hari berturut-turut.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, sebanyak 454 saham tertekan, sementara hanya 212 saham yang mampu bertahan di zona hijau. Nilai transaksi tercatat Rp9,26 triliun dengan volume 14 miliar saham dalam 1,13 juta kali transaksi. Volatilitas tinggi terlihat dari rentang pergerakan IHSG yang mencapai nyaris 200 poin dalam satu sesi.
Pelaku pasar tampak mengambil keuntungan setelah reli signifikan sebelumnya. Namun, tekanan jual juga dipicu oleh sentimen global yang memburuk. Eskalasi konflik militer antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas setelah CENTCOM mengumumkan serangan tambahan ke Iran pada Rabu (10/6/2026). Iran dilaporkan membalas dengan menargetkan kapal-kapal AS di Selat Hormuz menggunakan rudal dan drone.
Di sisi lain, data inflasi AS periode Mei 2026 yang dirilis Rabu malam menunjukkan akselerasi inflasi tahunan ke 4,2%, tertinggi sejak April 2023. Lonjakan ini didorong oleh kenaikan harga energi 23,5% secara tahunan. Inflasi inti yang tidak termasuk energi dan pangan tercatat lebih moderat di 2,9%.
Merespons data inflasi, pasar memperkirakan The Fed akan menahan suku bunga pada pertemuan 17 Juni mendatang, dengan potensi kenaikan baru mundur hingga Desember. Namun, Ketua The Fed Kevin Warsh justru memberi sinyal dovish dengan menyebut ruang penurunan suku bunga di masa depan, didorong oleh disinflasi dari produktivitas AI.
Bagi investor Indonesia, kombinasi perang dan inflasi tinggi menjadi ancaman langsung terhadap stabilitas rupiah dan arus modal asing. Pada Rabu, investor asing tercatat melakukan aksi jual bersih Rp3,13 triliun di seluruh pasar, menandakan kekhawatiran terhadap risiko geopolitik dan moneter global. Ketahanan fiskal domestik dan kebijakan Bank Indonesia akan menjadi faktor kunci dalam menjaga kepercayaan pasar ke depan.
Dengan volatilitas yang masih tinggi, pertanyaan besarnya adalah apakah IHSG mampu bangkit kembali dalam waktu dekat, atau justru tren pelemahan akan berlanjut seiring meningkatnya ketegangan global dan ketidakpastian suku bunga. Para pelaku pasar disarankan mencermati perkembangan konflik Iran-AS serta data ekonomi AS berikutnya yang dapat mempengaruhi arah kebijakan The Fed.



