BI dan PBOC Perkuat Pertahanan Rupiah: Enam Langkah Strategis Lawan Dominasi Dolar
Baca dalam 60 detik
- Bank Indonesia dan People's Bank of China sepakat memperluas kerja sama keuangan, termasuk peningkatan penggunaan mata uang lokal dalam transaksi bilateral.
- Kesepakatan mencakup pembentukan Renminbi Clearing Bank di Indonesia dan partisipasi Bank Mandiri dalam sistem pembayaran lintas batas China (CIPS).
- Langkah ini diharapkan mengurangi ketergantungan pada dolar AS dan memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tekanan global.

Bank Indonesia (BI) dan People's Bank of China (PBOC) menggelar pertemuan tingkat tinggi di Shanghai pada 11 Juni 2026, menghasilkan enam kesepakatan strategis yang dirancang untuk memperkuat ketahanan nilai tukar rupiah di tengah dominasi dolar AS yang kian agresif. Pertemuan yang dipimpin langsung Gubernur BI Perry Warjiyo dan Gubernur PBOC Pan Gongsheng ini menandai babak baru dalam kerja sama moneter bilateral, dengan fokus pada pengurangan ketergantungan terhadap mata uang AS.
Dalam pertemuan tersebut, kedua bank sentral sepakat untuk memperdalam sinergi guna menjaga stabilitas keuangan regional. Langkah ini dinilai krusial mengingat tekanan dolar AS yang terus menguat akibat kebijakan moneter ketat Federal Reserve. Bagi Indonesia, kerja sama ini menjadi bantalan tambahan untuk melindungi rupiah dari gejolak eksternal.
Salah satu poin utama adalah penjajakan peningkatan Bilateral Currency Swap Agreement (BCSA) serta komitmen untuk memperluas penggunaan mata uang lokal dalam transaksi bilateral. Saat ini, transaksi perdagangan dan investasi antara Indonesia dan China masih didominasi dolar AS. Dengan memperkuat Local Currency Transaction (LCT), kedua negara berharap dapat menekan biaya konversi dan mengurangi risiko nilai tukar.
Kesepakatan lainnya mencakup penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) mengenai LCT yang melibatkan BI, PBOC, dan Otoritas Moneter Hong Kong (HKMA). MoU ini memperluas cakupan transaksi lokal ke Hong Kong, pusat keuangan global yang memiliki hubungan erat dengan China. Selain itu, BI dan PBOC juga menandatangani MoU pembentukan Renminbi Clearing Arrangement di Indonesia, yang akan menyediakan likuiditas yuan untuk perdagangan dan investasi.
Langkah konkret lainnya adalah peluncuran pembayaran QR lintas batas antara Indonesia dan China. Inisiatif ini memungkinkan transaksi ritel menggunakan mata uang lokal secara langsung, memudahkan wisatawan dan pelaku usaha kecil. Sementara itu, partisipasi Bank Mandiri dalam Cross-border Interbank Payment System (CIPS) akan mempercepat kliring transaksi bilateral, mengurangi waktu dan biaya penyelesaian.
Menurut analis ekonomi, langkah BI dan PBOC ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang untuk mengurangi dominasi dolar dalam sistem keuangan global. Bagi Indonesia, penguatan kerja sama dengan China tidak hanya melindungi rupiah tetapi juga membuka akses ke pasar keuangan terbesar kedua di dunia. Namun, tantangan tetap ada, terutama dalam hal likuiditas yuan di dalam negeri dan kesiapan infrastruktur perbankan.
Ke depan, keberhasilan inisiatif ini akan sangat bergantung pada implementasi teknis dan perluasan partisipasi bank-bank Indonesia lainnya. Pertanyaan yang muncul: seberapa cepat ekosistem yuan dapat terbentuk di Indonesia, dan akankah langkah ini cukup untuk menahan gempuran dolar AS yang terus menguat?



