Kebangkrutan Perusahaan Jepang Turun 8,9% di Mei, Tanda Dukungan Bank Mulai Terasa
Baca dalam 60 detik
- Jumlah kebangkrutan di Jepang pada Mei 2025 turun 8,9% secara tahunan, pertama kali dalam enam bulan, berkat bantuan likuiditas perbankan.
- Sektor padat karya seperti restoran, konstruksi, dan ritel paling terpukul, dengan 75% korban adalah perusahaan kecil berutang di bawah 100 juta yen.
- Kekhawatiran meningkat terkait dampak konflik Timur Tengah terhadap rantai pasok dan biaya energi yang bisa memicu gelombang kebangkrutan baru.

Jumlah perusahaan yang bangkrut di Jepang pada Mei 2025 tercatat 780 kasus, turun 8,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Ini merupakan penurunan pertama dalam enam bulan terakhir, menandai efek positif dari dukungan perbankan yang membantu perusahaan bertahan di tengah kenaikan harga akibat konflik Timur Tengah.
Meski jumlah kasus menurun, total liabilitas perusahaan justru melonjak 34 persen secara tahunan menjadi 121,1 miliar yen (sekitar Rp 12,7 triliun). Angka ini menunjukkan bahwa meski lebih sedikit perusahaan yang gulung tikar, mereka yang bangkrut memiliki beban utang yang jauh lebih besar.
Menurut survei Tokyo Shoko Research, sebanyak 64 kebangkrutan dipicu langsung oleh kenaikan harga, sementara 37 kasus disebabkan oleh kekurangan tenaga kerja. Seorang pejabat lembaga riset tersebut mengungkapkan kekhawatiran bahwa kebangkrutan terkait dampak konflik Timur Tengah akan terus bertambah, terutama jika harga energi dan bahan baku tetap tinggi.
Sektor padat karya menjadi yang paling rentan. Industri jasa, termasuk restoran, mencatat jumlah kebangkrutan tertinggi dengan 253 kasus. Disusul sektor konstruksi sebanyak 147 kasus dan ritel 94 kasus. Lonjakan biaya tenaga kerja menjadi faktor utama yang menekan margin usaha, terutama bagi perusahaan kecil yang tidak memiliki daya tawar kuat terhadap kenaikan upah.
Fakta lain yang mencolok, perusahaan dengan liabilitas di bawah 100 juta yen mencakup 75 persen dari total kebangkrutan. Sementara itu, terdapat 21 kasus kebangkrutan dengan utang antara 1 miliar hingga 10 miliar yen, dan satu kasus dengan utang di atas 10 miliar yen โ pertama kalinya dalam dua bulan terakhir. Ini mengindikasikan bahwa perusahaan besar pun mulai merasakan tekanan ekonomi.
Bagi Indonesia, situasi ini patut dicermati. Jepang merupakan salah satu mitra dagang utama dan investor terbesar di Indonesia. Jika kebangkrutan di Jepang meningkat kembali akibat eskalasi konflik Timur Tengah, dampaknya bisa merembet ke rantai pasok elektronik, otomotif, dan mesin berat yang banyak dipasok dari Jepang. Selain itu, perusahaan Jepang di Indonesia mungkin akan lebih berhati-hati dalam ekspansi atau bahkan melakukan efisiensi, yang berpotensi mempengaruhi lapangan kerja di sektor manufaktur.
Ke depan, para analis memperkirakan bahwa dukungan perbankan mungkin tidak akan bertahan lama jika suku bunga terus naik. Pertanyaan yang mengemuka: akankah bank sentral Jepang mempertahankan kebijakan longgarnya, atau justru memperketat likuiditas yang bisa memicu gelombang kebangkrutan baru?



