Gempa Susulan M 6,0 Guncang Sangihe, Warga Gorontalo Utara Evakuasi Mandiri
Baca dalam 60 detik
- Gempa susulan magnitudo 6,0 berpusat di Laut Sulawesi, getaran terasa hingga Gorontalo Utara, status peringatan tsunami masih berlaku.
- Warga di pesisir Gorontalo Utara melakukan evakuasi mandiri tanpa menunggu instruksi resmi, dipicu kekhawatiran tsunami.
- Sekolah di Gorontalo Utara memulangkan siswa lebih awal sebagai langkah antisipasi, situasi dilaporkan kondusif.

Gempa bumi susulan berkekuatan magnitudo 6,0 mengguncang wilayah Laut Sulawesi pada Senin pagi, memicu kepanikan dan evakuasi mandiri warga di Kabupaten Gorontalo Utara yang merasakan getaran cukup kuat. Pusat gempa berada di sekitar Tahuna, Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara, dan hingga saat ini status peringatan tsunami masih berlaku pada level Peringatan Dini (PD) 3.
Kepala Stasiun Geofisika Gorontalo, Dr. Andri Wijaya, mengonfirmasi bahwa gempa susulan ini merupakan rangkaian dari aktivitas seismik yang terjadi sebelumnya. Meski getaran tidak menyebabkan kerusakan signifikan, kekhawatiran warga terhadap potensi tsunami memicu respons cepat di lapangan. Pihak berwenang terus memutakhirkan data dan mengimbau masyarakat tetap waspada.
Di Dusun Pelabuhan, Desa Katialada, Kecamatan Kwandang, warga seperti Hamid Rauf, seorang penjual ikan keliling, mengaku sempat menghentikan aktivitas dan berdoa saat gempa terjadi. "Kami takut dengan adanya peringatan tsunami, saya sempat merasa pusing dan khawatir," ujarnya. Sementara itu, warga lainnya, Iskandar, mengatakan bahwa sebagian warga pesisir telah mulai melakukan evakuasi mandiri tanpa menunggu instruksi resmi, berdasarkan informasi yang beredar tentang status siaga tsunami.
Kepanikan juga meluas ke sektor pendidikan. Ervina, guru SMA Negeri 1 Gorontalo Utara, menyatakan bahwa pihak sekolah memutuskan memulangkan seluruh siswa lebih awal setelah banyak orang tua menghubungi wali kelas. "Bel panjang telah dibunyikan, anak-anak dipulangkan ke rumah. Alhamdulillah lingkungan sekolah kondusif," katanya. Langkah ini diambil sebagai bentuk antisipasi terhadap kemungkinan terjadinya tsunami.
Fenomena gempa susulan di wilayah Laut Sulawesi bukanlah hal baru. Secara geologis, kawasan ini berada di pertemuan lempeng tektonik yang aktif, sehingga sering terjadi gempa bumi. Namun, respons masyarakat yang cepat dan mandiri menunjukkan meningkatnya kesadaran akan risiko bencana. Pemerintah daerah diharapkan terus memberikan informasi terkini dan koordinasi evakuasi untuk mengurangi risiko korban jiwa.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah seberapa efektif sistem peringatan dini tsunami dalam menjangkau seluruh lapisan masyarakat, terutama di daerah terpencil. Dengan adanya evakuasi mandiri yang dilakukan warga, perlu dievaluasi apakah prosedur standar operasional sudah cukup dipahami atau masih perlu disosialisasikan lebih luas.


