Presiden Lee Jae-myung Ajukan Han Seong-sook sebagai Perdana Menteri, Hanya Wanita Kedua yang Menduduki Jabatan Itu
Baca dalam 60 detik
- Presiden Korea Selatan Lee Jae-myung menominasikan Menteri UKM Han Seong-sook sebagai perdana menteri baru, yang jika disetujui parlemen akan menjadi perempuan kedua yang memimpin kabinet.
- Nominasi ini muncul setelah partai berkuasa mendominasi pemilu lokal, meskipun kalah di kursi wali kota Seoul, dan diwarnai kontroversi kekurangan surat suara di 50 TPS.
- Han dianggap tepat memimpin di tengah transisi strategis akibat inovasi AI dan krisis global, sementara perdana menteri petahana diperkirakan akan maju dalam pemilihan ketua partai.

Presiden Korea Selatan Lee Jae-myung secara resmi menunjuk Menteri Usaha Kecil, Menengah, dan Rintisan (UKM) Han Seong-sook sebagai calon perdana menteri. Jika mendapat persetujuan dari Majelis Nasional, Han akan menjadi perempuan kedua dalam sejarah negeri itu yang memimpin kabinet.
Han, 58 tahun, saat ini menjabat sebagai menteri yang membidangi sektor UKM dan startup. Pengumuman ini disampaikan sehari setelah Partai Demokrat yang berkuasa meraih kemenangan telak dalam pemilihan kepala daerah, meskipun gagal merebut kursi wali kota Seoul yang dimenangkan oposisi. Kontroversi ikut mewarnai pesta demokrasi tersebut akibat kekurangan surat suara di 50 tempat pemungutan suara (TPS) di seluruh negeri, yang memicu pengunduran diri ketua komisi pemilihan umum.
Kepala Staf Kepresidenan Kang Hoon-sik dalam konferensi pers menyatakan bahwa Presiden Lee menilai Han sebagai sosok yang tepat untuk memikul tanggung jawab pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan rakyat di tengah masa transisi strategis yang didorong oleh inovasi kecerdasan buatan (AI) serta kompleksitas krisis global. โBeliau diyakini mampu menghadapi tantangan besar yang dihadapi bangsa,โ ujar Kang.
Proses konfirmasi Han memerlukan persetujuan Majelis Nasional yang beranggotakan 300 kursi. Dengan mayoritas yang dimiliki Partai Demokrat, pengamat politik memperkirakan peluang lolosnya Han cukup besar, selama tidak ada kendala etika atau skandal yang menghadang. Jika resmi menjabat, Han akan mengisi posisi yang ditinggalkan Kim Min-seok, yang kini santer disebut akan bersaing dalam pemilihan ketua partai.
Bagi Indonesia, dinamika politik Korea Selatan ini menarik dicermati mengingat hubungan bilateral yang erat, terutama di bidang perdagangan dan investasi. Kepemimpinan baru di Korea Selatan, khususnya dengan latar belakang Han yang fokus pada UKM dan startup, berpotensi membuka peluang kerja sama lebih luas dengan ekosistem rintisan Indonesia. Selain itu, stabilitas politik di Korea Selatan menjadi faktor penting bagi iklim investasi di kawasan Asia Timur.
Ke depan, publik menantikan apakah Han mampu membawa arah baru dalam kebijakan ekonomi dan teknologi di tengah tekanan global. Pertanyaan besarnya: akankah pengalaman Han di sektor UKM cukup untuk menjawab tantangan transformasi digital dan ketidakpastian geopolitik yang kian kompleks?