Gempa M7,7 Guncang Sangihe: Enam Provinsi Siaga Tsunami
Baca dalam 60 detik
- BMKG mengeluarkan peringatan dini tsunami untuk enam provinsi setelah gempa tektonik M7,7 di Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara, pada Senin pagi.
- Pusat gempa berada di laut dengan kedalaman 105 km, memicu potensi gelombang tinggi yang mengancam wilayah pesisir Sulawesi, Gorontalo, Maluku Utara, dan Kalimantan Timur.
- Hingga saat ini belum ada laporan korban jiwa atau kerusakan, namun masyarakat diimbau tetap waspada dan mengikuti arahan evakuasi dari otoritas setempat.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8034960/original/039082800_1780876606-Jepretan_Layar_2026-06-05_pukul_06.53.44.jpg)
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengaktifkan status peringatan dini tsunami di enam provinsi setelah gempa bumi tektonik berkekuatan Magnitudo 7,7 mengguncang Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara, pada Senin pagi, 8 Juni 2026. Guncangan yang terjadi pukul 06.37 WIB ini langsung memicu respons cepat dari otoritas kebencanaan mengingat kekuatan dan lokasi episenter yang berada di laut.
Berdasarkan analisis BMKG, pusat gempa terletak pada koordinat 5,69 Lintang Utara dan 125,05 Bujur Timur, dengan kedalaman hiposenter mencapai 105 kilometer. Meskipun relatif dalam, magnitudo yang besar tetap berpotensi membangkitkan gelombang tsunami, terutama di wilayah pesisir yang berhadapan langsung dengan Laut Maluku dan Samudra Pasifik. Parameter ini menjadi dasar penetapan status siaga di enam provinsi: Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Maluku Utara, dan Kalimantan Timur.
Keputusan BMKG untuk memperluas peringatan hingga ke Kalimantan Timur menunjukkan potensi dampak yang tidak bisa dianggap remeh. Wilayah pesisir timur Kalimantan, meskipun jaraknya relatif jauh, tetap rentan terhadap rambatan gelombang tsunami karena morfologi dasar laut yang mendukung. Bagi masyarakat di daerah tersebut, terutama yang bermukim di pesisir, kewaspadaan menjadi kunci utama. BPBD setempat telah diinstruksikan untuk menyiagakan jalur evakuasi dan memastikan sistem peringatan dini berfungsi optimal.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada laporan resmi mengenai kerusakan bangunan atau korban jiwa. Namun, sejarah mencatat bahwa gempa dengan karakteristik serupa di kawasan ini pernah memicu tsunami lokal yang merusak. Misalnya, gempa M7,4 di Laut Maluku pada 2019 lalu menyebabkan gelombang setinggi 1,5 meter di beberapa pulau. Oleh karena itu, meskipun belum ada laporan kerusakan, masyarakat diimbau untuk tidak lengah dan segera menjauh dari pantai jika merasakan guncangan kuat atau melihat air laut surut secara tiba-tiba.
BMKG terus memantau perkembangan dan akan memperbarui status peringatan jika terjadi perubahan signifikan. Masyarakat di wilayah terdampak diharapkan tetap tenang, mengikuti arahan dari BPBD dan pemerintah daerah, serta tidak mudah percaya pada informasi yang tidak terverifikasi. Pertanyaan yang kini mengemuka adalah seberapa cepat gelombang tsunami akan tiba jika benar-benar terjadi, dan apakah infrastruktur mitigasi di daerah-daerah tersebut sudah memadai untuk menghadapi skenario terburuk.