Singapura Luncurkan 2.520 Flats BTO dengan Masa Tunggu di Bawah Tiga Tahun
Baca dalam 60 detik
- HDB akan menawarkan 2.520 unit rumah susun dalam program BTO Juni dengan masa tunggu maksimal tiga tahun, mencakup tiga proyek di Sembawang dan Ang Mo Kio.
- Dua proyek di Sembawang memiliki masa tunggu kurang dari tiga tahun, yaitu Sembawang Portico (2 tahun 7 bulan) dan Sembawang Brook (2 tahun 9 bulan), sementara Kebun Baru Ridge di Ang Mo Kio membutuhkan 3 tahun 1 bulan.
- Inisiatif ini merupakan bagian dari upaya HDB mempercepat hunian dengan memulai konstruksi sebelum peluncuran, serta memastikan fasilitas umum tersedia enam bulan setelah serah terima kunci.

Otoritas perumahan Singapura, Housing and Development Board (HDB), akan meluncurkan 2.520 unit rumah susun dengan masa tunggu maksimal tiga tahun dalam program Build-to-Order (BTO) bulan Juni mendatang. Langkah ini menjadi angin segar bagi calon pembeli yang selama ini mengeluhkan lamanya waktu tunggu, yang kerap mencapai empat hingga lima tahun.
Dari total sekitar 6.900 unit yang akan ditawarkan pada gelombang Juni, lebih dari sepertiganya merupakan proyek dengan masa tunggu lebih pendek. Tiga proyek tersebut tersebar di dua kawasan: Sembawang dan Ang Mo Kio. Dua proyek di Sembawang—Sembawang Portico dan Sembawang Brook—dijanjikan selesai dalam waktu kurang dari tiga tahun, masing-masing 2 tahun 7 bulan dan 2 tahun 9 bulan. Sementara itu, Kebun Baru Ridge di Ang Mo Kio membutuhkan waktu 3 tahun 1 bulan.
Kebijakan ini merupakan respons terhadap tekanan publik akan keterjangkauan dan kecepatan hunian. HDB mengungkapkan bahwa kunci sukses proyek dengan masa tunggu pendek terletak pada koordinasi antarlembaga yang dimulai sejak tahap perencanaan awal. "Kami bekerja sama dengan berbagai instansi pemerintah untuk mengidentifikasi dan memprioritaskan lokasi proyek yang tersedia lebih awal," demikian pernyataan HDB. Dengan demikian, proses desain dan konstruksi sudah berjalan jauh sebelum proyek resmi dipasarkan.
Proyek Sembawang Portico dan Sembawang Brook terletak di kawasan baru Sembawang North, saling berdekatan, dan akan dilengkapi fasilitas seperti tempat makan, pusat penitipan anak, minimarket, serta layanan bus. HDB memastikan bahwa fasilitas tersebut akan beroperasi sekitar enam bulan setelah penghuni pertama menerima kunci—sebuah terobosan yang diumumkan Kementerian Pembangunan Nasional dalam Committee of Supply 2026. Kebijakan ini memangkas kesenjangan antara hunian jadi dan ketersediaan layanan publik yang kerap menjadi keluhan warga baru.
Sementara itu, Kebun Baru Ridge di Ang Mo Kio menawarkan 485 unit tipe 3 dan 4 kamar, dengan akses mudah ke Stasiun MRT Mayflower (Jalur Thomson-East Coast) serta pusat perbelanjaan dan makanan di sekitarnya. Proyek ini juga menyediakan minimarket dan rumah makan di dalam kompleks.
Bagi Indonesia, langkah Singapura ini menjadi contoh konkret bagaimana perencanaan terpadu dan kolaborasi antarsektor dapat mempercepat penyediaan hunian terjangkau. Di tengah program sejuta rumah yang digalakkan pemerintah, efisiensi waktu tunggu dan kesiapan infrastruktur pendukung masih menjadi tantangan. Model koordinasi multi-lembaga seperti yang diterapkan HDB bisa menjadi referensi bagi otoritas perumahan di Indonesia, khususnya dalam proyek rumah susun sederhana milik (rusunami) di kota-kota besar.
Selain tiga proyek tersebut, HDB juga akan menawarkan empat proyek lain di Ang Mo Kio, Bishan, Bukit Merah, dan Woodlands pada Juni mendatang. Detail klasifikasi dan harga akan diumumkan saat masa pemesanan dibuka. Pertanyaan besarnya: apakah model ini akan menjadi standar baru BTO ke depan, atau hanya sekadar proyek percontohan?


