Bintang Rugby Inggris Ellie Kildunne Hengkang dari Harlequins: Masa Depan di Ujung Tanduk
Baca dalam 60 detik
- Ellie Kildunne, pemain terbaik dunia 2024, meninggalkan Harlequins secara mengejutkan tanpa rencana klub baru.
- Kepergiannya dipicu oleh masalah disiplin dan hubungan yang renggang dengan staf pelatih, menurut laporan media Inggris.
- Sejumlah klub seperti Ealing Trailfinders dan Exeter berpotensi menjadi pelabuhan baru, namun kendala gaji dan posisi pemain menjadi hambatan.

Ellie Kildunne, pemain rugby wanita Inggris yang dinobatkan sebagai pemain terbaik dunia pada 2024, mengakui bahwa kepergiannya dari Harlequins bukanlah rencana yang ia inginkan. Pemain berusia 26 tahun itu bahkan belum mengetahui di mana ia akan bermain pada musim depan setelah klub London tersebut mengumumkan pemutusan kontraknya pada Selasa lalu.
Dalam podcast pribadinya, Rugby Rodeo, Kildunne mengaku terkejut dengan keputusan manajemen. “Saya tidak punya rencana untuk pergi. Ini sama mengejutkannya bagi saya seperti bagi orang lain,” ujarnya. Unggahan di Instagram-nya juga mengungkapkan kekecewaan mendalam karena harus meninggalkan The Stoop, markas Harlequins.
Menurut laporan Daily Telegraph, ketegangan antara Kildunne dan staf pelatih sudah memburuk dalam beberapa waktu terakhir. Pemain yang didiagnosis dengan attention deficit hyperactivity disorder (ADHD) tahun lalu itu disebut kerap terlambat dalam rapat tim. Meski demikian, Kildunne menegaskan bahwa ia ingin berada di lingkungan yang mendukung dirinya menjadi versi terbaik, baik sebagai atlet maupun pribadi.
Kildunne, yang dibesarkan di Keighley, Yorkshire, sempat dikaitkan dengan Sale Sharks. Klub kaya itu berambisi mendatangkan bakat kelas dunia ke utara Inggris, namun mereka sudah merekrut tiga pemain Gloucester-Hartpury musim panas ini. Dengan skuad yang sudah dihuni beberapa pemain timnas Inggris, batasan gaji menjadi kendala serius.
Bristol Bears, yang musim lalu meminjam bintang Amerika Ilona Maher, tampaknya menjadi tujuan logis. Namun, performa buruk klub itu musim ini—hanya unggul dari Leicester di dasar klasemen—membuat mereka tidak dianggap sebagai pesaing serius. Sementara itu, juara bertahan tiga kali Gloucester-Hartpury baru saja memperpanjang kontrak Emma Sing, yang berposisi sama dengan Kildunne sebagai full-back.
Pilihan lain adalah Ealing Trailfinders, yang untuk pertama kalinya lolos ke babak play-off akhir pekan lalu. Klub yang bermarkas di London barat itu memiliki kapten Inggris Meg Jones di posisi center, dan secara geografis paling dekat dengan Harlequins. Exeter, yang baru saja melepas tujuh pemain, juga memiliki ruang di skuad mereka.
“Setiap orang bertanya-tanya ke mana saya akan pergi, dan saat ini saya sendiri tidak tahu. Saya berharap memiliki gambaran dan rencana yang lebih jelas. Yang terpenting bagi saya adalah berada di tempat di mana saya bisa menjadi diri sendiri dan terus berkembang sebagai pemain rugby terbaik,” kata Kildunne.
Bagi penggemar rugby di Indonesia, kisah Kildunne menjadi cerminan dinamika olahraga profesional di level tertinggi. Meski popularitas rugby wanita di Tanah Air belum sebesar sepak bola, pergerakan pemain bintang seperti Kildunne menunjukkan bahwa isu seperti kesehatan mental, disiplin, dan kebebasan atlet dalam memilih klub juga relevan di sini. Ke depannya, apakah Kildunne akan memilih klub yang menawarkan tantangan kompetitif atau kenyamanan geografis? Atau justru akan ada kejutan dengan kepindahan ke luar negeri? Publik rugby dunia menunggu.



