IHSG Anjlok 33,3%: Bukan Fundamental yang Bermasalah, Melainkan Kepercayaan Investor
Baca dalam 60 detik
- IHSG tercatat ambruk 33,3% sejak awal tahun, meski laba emiten tumbuh 21% pada 2025 dan 80% perusahaan tercatat membukukan laba di kuartal I-2026.
- Pelaksana Tugas Sementara Dirut BEI, Jeffrey Hendrik, mengakui pemulihan kepercayaan investor menjadi prioritas utama di tengah aksi jual asing yang mencapai Rp56,36 triliun sejak awal tahun.
- Analis menilai pelemahan rupiah mendekati Rp18.000 per dolar AS dan ketidakpastian kebijakan domestik menjadi pemicu utama, bukan faktor eksternal seperti konflik AS-Iran.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) telah kehilangan sepertiga nilainya sejak awal tahun, merosot 33,3%, meskipun kinerja fundamental emiten menunjukkan tren positif. Fenomena ini memunculkan pertanyaan serius: apa sebenarnya yang menyebabkan pasar modal Indonesia terpuruk?
Pelaksana Tugas Sementara Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI), Jeffrey Hendrik, menegaskan bahwa fundamental perusahaan tercatat justru dalam kondisi prima. Pada akhir tahun buku 2025, seluruh emiten mencatat pertumbuhan laba lebih dari 21%. Bahkan, pada kuartal I-2026, emiten LQ45 membukukan lonjakan laba bersih 29,9% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Lebih menggembirakan lagi, 80% perusahaan tercatat berhasil membukukan laba bersihโpersentase tertinggi dalam lima tahun terakhir. Sebagai perbandingan, pada 2020 hanya 63% perusahaan yang mencatat laba, sementara pada 2021-2025 angkanya berkisar 73%-76%.
Namun, data positif itu tak mampu menahan laju penurunan IHSG yang menembus level psikologis 6.000 dan ditutup di 5.941 pada 3 Juni 2026. Jeffrey mengakui bahwa pemulihan kepercayaan investor menjadi fokus utama BEI. Berbagai langkah telah dilakukan, mulai dari peningkatan transparansi, penyajian data lebih rinci, hingga pengungkapan konsentrasi kepemilikan saham. "Seluruhnya adalah upaya kami untuk meningkatkan kembali kepercayaan investor pada pasar kita," ujarnya.
Di sisi lain, Founder Stocknow.id Hendra Wardana menilai koreksi tajam ini merupakan sinyal krisis kepercayaan yang serius. Menurutnya, penurunan IHSG tidak semata-mata dipicu faktor eksternal seperti memanasnya konflik AS-Iran yang mendorong harga minyak mendekati US$100 per barel. Justru, faktor domestik menjadi pemberat utama: pelemahan rupiah yang mendekati Rp18.000 per dolar AS, kekhawatiran terhadap kebijakan ekspor satu pintu, serta arus keluar dana asing yang terus berlanjut. "Ketika pemerintah menyampaikan fundamental ekonomi kuat, tapi rupiah melemah, IHSG menjadi indeks terburuk di dunia, dan asing terus jual, muncul kesenjangan antara narasi dan realitas," tegas Hendra.
Data perdagangan 3 Juni 2026 mencatat net foreign sell sebesar Rp993,29 miliar dalam sehari. Secara kumulatif, sejak awal tahun investor asing telah melepas saham Indonesia senilai Rp56,36 triliun. Fenomena ini kontras dengan mayoritas bursa Asia yang justru menguat, mengindikasikan bahwa tekanan terhadap pasar domestik lebih banyak berasal dari faktor internal.
Ke depan, pertanyaan krusial yang mengemuka adalah: akankah langkah BEI dan pemerintah cukup untuk mengembalikan kepercayaan investor di tengah tekanan rupiah dan ketidakpastian kebijakan? Ataukah pasar membutuhkan sinyal yang lebih konkret, seperti reformasi struktural atau insentif fiskal, untuk membalikkan sentimen?



