Setelah Sukses Vampire Survivors, Poncle Buka Studio Baru di Jepang
Baca dalam 60 detik
- Poncle, pengembang Vampire Survivors, meresmikan cabang studio di Jepang yang dipimpin oleh Sawaki Takeyasu, kreator El Shaddai.
- Ekspansi ini didorong oleh kekaguman pendiri Luca Galante terhadap industri game Jepang dan pengalaman positifnya selama berkunjung ke sana.
- Studio Jepang akan beroperasi secara independen dengan proyek unik, namun tetap membuka peluang kolaborasi dengan tim Poncle lainnya.

Kesuksesan gemilang Vampire Survivors membawa angin segar bagi pengembangnya, Poncle. Studio independen asal Inggris itu kini melebarkan sayap ke Negeri Sakura dengan mendirikan kantor cabang di Jepang. Langkah ini diumumkan langsung oleh pendiri Poncle, Luca Galante, dalam sebuah wawancara baru-baru ini.
Bagi Galante, Jepang bukan sekadar pasar baru. Dalam pernyataannya, ia mengungkapkan kekaguman lama terhadap game-game buatan Jepang serta pengalaman positif selama berkunjung ke sana. โSaya selalu ingin memiliki studio di Jepang,โ ujarnya. Ambisi ini akhirnya terwujud berkat pendapatan besar dari Vampire Survivors yang memungkinkan ekspansi.
Untuk memimpin cabang Jepang, Poncle menunjuk Sawaki Takeyasu, nama yang tak asing di industri game. Takeyasu dikenal sebagai sutradara El Shaddai: Ascension of the Metatron, game aksi-petualangan yang mendapat pujian kritis. Pengalamannya dianggap mampu membawa perspektif segar bagi pengembangan proyek-proyek Poncle ke depan.
Yang menarik, studio baru ini dipastikan memiliki otonomi besar dalam menentukan arah proyeknya. Menurut Galante, setiap tim di Poncle bersifat independen dan fokus pada proyek unik masing-masing. Meski begitu, kolaborasi antar cabang tetap dimungkinkan. Model ini mirip dengan pendekatan beberapa studio besar seperti Bethesda atau Ubisoft, di mana setiap cabang memiliki identitas sendiri namun tetap terintegrasi.
Bagi industri game Indonesia, langkah Poncle bisa menjadi pelajaran berharga. Ekspansi internasional tidak selalu harus dimulai dari negara besar; kesuksesan produk yang tepat dapat membuka pintu ke pasar global. Selain itu, pendekatan otonomi kreatif yang diterapkan Poncle menunjukkan bahwa skala studio tidak menghalangi inovasi. Jika Indonesia memiliki lebih banyak pengembang yang mampu menembus pasar global, bukan tidak mungkin suatu hari nanti studio game Tanah Air juga akan membuka cabang di luar negeri.
Kehadiran Sawaki Takeyasu di Poncle Jepang juga menimbulkan pertanyaan: akankah ia membawa elemen khas game Jepang ke dalam Vampire Survivors atau waralaba baru? Atau justru sebaliknya, ia akan mengadaptasi formula sukses Poncle ke dalam sentuhan lokal? Yang jelas, langkah ini menandai babak baru bagi Poncle, dan industri game dunia patut menantikan apa yang akan lahir dari perpaduan kreativitas Barat dan Timur.



