IHSG Rontok 3% dalam Sehari, Kapitalisasi Pasar Terkikis Rp300 Triliun
Baca dalam 60 detik
- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 3,02% ke 5.760,33 pada perdagangan hari ini, memperpanjang tren negatif setelah sehari sebelumnya ambles 4,11%.
- Aksi jual investor asing yang mencapai hampir Rp1 triliun pada sesi sebelumnya masih membayangi, dengan 547 saham tertekan di zona merah.
- Kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia terkoreksi menjadi Rp10.311 triliun, menyiratkan kekhawatiran pelaku pasar terhadap prospek ekonomi domestik.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mengalami tekanan jual yang signifikan, ambles 3,02% ke posisi 5.760,33 pada perdagangan hari ini, memperpanjang koreksi tajam setelah sehari sebelumnya merosot 4,11%.
Data perdagangan menunjukkan sebanyak 547 saham tercatat melemah, sementara hanya 88 saham berhasil menguat dan 321 saham lainnya stagnan. Volume transaksi mencapai 5,23 miliar lembar saham dengan nilai Rp3,38 triliun, menandakan aktivitas jual yang masif di seluruh sektor.
Pada awal sesi, IHSG sempat dibuka di level 5.919,57 dan menyentuh titik tertinggi 5.924,51, namun tekanan jual langsung mendominasi sehingga indeks terperosok ke level terendah 5.873,00 sebelum akhirnya ditutup lebih dalam. Kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia pun terkikis menjadi Rp10.311 triliun, menyusut sekitar Rp300 triliun dari posisi sebelumnya.
Koreksi beruntun ini terjadi setelah pada perdagangan sebelumnya IHSG ambles 4,11% ke 5.941,07, dipicu aksi jual bersih investor asing yang mencapai hampir Rp1 triliun. Saat itu, sekitar 75% saham berakhir di zona merah. Pola yang sama kembali terulang hari ini, mengindikasikan belum adanya sentimen positif yang mampu membalikkan arah pasar.
Bagi investor ritel di Indonesia, kondisi ini menjadi sinyal waspada. Pelemahan IHSG yang terus berlanjut dapat menggerus nilai portofolio, terutama pada saham-saham berkapitalisasi besar yang menjadi penopang indeks. Analis pasar menilai tekanan jual asing masih akan berlanjut seiring ketidakpastian global, seperti kebijakan suku bunga The Fed dan perlambatan ekonomi China yang berdampak pada arus modal ke pasar emerging market.
Di sisi lain, data transaksi menunjukkan frekuensi perdagangan mencapai 397,9 ribu kali, lebih tinggi dari rata-rata harian, yang mengindikasikan kepanikan di kalangan trader jangka pendek. Namun, volume besar juga bisa menjadi peluang bagi investor yang mencari valuasi murah, asalkan fundamental emiten tetap solid.
Pertanyaan besarnya, apakah IHSG akan menemukan level support baru atau justru melanjutkan tren penurunan menuju level psikologis 5.500? Para pelaku pasar kini menanti rilis data ekonomi domestik, termasuk inflasi dan neraca perdagangan, yang bisa menjadi katalis pemulihan atau justru memperburuk sentimen.



