Harga Minyak Melonjak di Tengah Ketegangan Timur Tengah: Brent Tembus $97
Baca dalam 60 detik
- Brent dan WTI mencatat kenaikan mingguan signifikan, dipicu eskalasi konflik AS-Iran dan ancaman penutupan Selat Hormuz.
- Kekhawatiran gangguan pasokan mengalahkan prospek diplomasi, dengan Brent sempat menyentuh $97 per barel di tengah ketidakpastian gencatan senjata.
- Bagi Indonesia, kenaikan harga minyak berpotensi memperlebar defisit APBN dan menekan subsidi energi, meski ada peluang peningkatan pendapatan ekspor.

Harga minyak mentah dunia kembali meroket pada pekan ini, dengan Brent menembus level psikologis $97 per barel di tengah eskalasi konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Iran serta ketidakpastian keamanan jalur distribusi energi global. Kenaikan ini menandai reli mingguan ketiga berturut-turut, didorong oleh kekhawatiran pasokan yang mengalahkan prospek diplomatik yang mulai mengemuka.
Brent, acuan minyak global, ditutup pada $94,76 per barel, naik 2,9 persen dibandingkan posisi akhir pekan lalu di $92,05. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) mencatat lonjakan lebih tajam, yakni 6,3 persen secara mingguan menjadi $92,86 per barel. Pergerakan ini terjadi setelah serangan balasan antara Washington dan Teheran pada akhir pekan lalu memicu spekulasi bahwa konflik akan meluas ke kawasan produsen utama di Timur Tengah.
Ketegangan semakin memuncak ketika laporan menyebutkan Teheran menghentikan kontak tidak langsung dengan AS melalui mediator dan mempertimbangkan langkah drastis, termasuk penutupan total Selat Hormuz—jalur vital yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dunia. Langkah ini langsung mendorong Brent ke level tertinggi mingguan di atas $97, sebelum sedikit terkoreksi karena isyarat diplomatik dari kedua belah pihak.
Dari sisi fundamental, pasar juga mendapat sokongan dari data inventaris AS. Badan Informasi Energi AS (EIA) melaporkan penurunan stok komersial minyak mentah sebesar 8 juta barel pekan lalu, mengindikasikan permintaan bahan bakar yang masih solid di negara konsumen terbesar dunia. Selain itu, langkah DPR AS yang menyetujui perluasan sanksi terhadap sektor minyak dan gas Rusia menambah kekhawatiran akan berkurangnya pasokan dari Moskow di masa depan.
Namun, reli harga tidak sepenuhnya mulus. Sinyal diplomatik yang membaik antara Washington dan Teheran sepanjang pekan membatasi kenaikan. Presiden AS Donald Trump berulang kali menyatakan negosiasi dengan Iran masih berlangsung dan kesepakatan bisa dicapai dalam hitungan hari. Pejabat Iran juga mengonfirmasi bahwa saluran komunikasi tetap terbuka meskipun kemajuan perundingan terbatas. Ekspektasi bahwa kesepakatan potensial akan mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz dan langkah-langkah terkait program nuklir Iran meredakan kekhawatiran akan gangguan pasokan.
Sentimen pasar juga tertekan oleh harapan gencatan senjata antara Israel dan Hizbullah, serta disetujuinya resolusi kekuasaan perang oleh DPR AS yang membatasi operasi militer terhadap Iran. Di luar Timur Tengah, prospek diplomasi di Eropa Timur turut meredakan ketegangan. Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, menyatakan Moskow berharap negosiasi dengan Ukraina akan dilanjutkan setelah jeda singkat, dan mengonfirmasi bahwa saluran komunikasi dengan AS tetap terbuka.
Bagi Indonesia, lonjakan harga minyak ini membawa implikasi ganda. Di satu sisi, kenaikan harga komoditas ekspor seperti minyak sawit dan batu bara bisa mendongkrak pendapatan negara. Namun di sisi lain, beban subsidi energi—terutama untuk bahan bakar minyak dan listrik—berpotensi membengkak, mengingat Indonesia masih menjadi importir minyak neto. Pemerintah perlu mengantisipasi tekanan pada APBN jika harga minyak bertahan di atas $90 per barel dalam jangka panjang. Pertanyaan selanjutnya: akankah diplomasi mampu meredakan ketegangan, atau justru eskalasi baru yang akan mendorong harga menembus $100?



