Kim Jong Un Klaim Kapasitas Produksi Nuklir Korea Utara Naik Dua Kali Lipat dalam Lima Tahun
Baca dalam 60 detik
- Pemimpin Korut mengumumkan kapasitas produksi bahan nuklir senjata meningkat lebih dari dua kali lipat dalam lima tahun terakhir saat meninjau fasilitas baru.
- Kim meminta penguatan kekuatan nuklir secara eksponensial, menekankan perlunya peningkatan kualitas dan kuantitas senjata nuklir sebagai pencegah perang.
- Pengembangan ini menambah ketegangan di Semenanjung Korea dan berimplikasi pada stabilitas keamanan Asia Timur, termasuk kepentingan Indonesia di kawasan.

Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un mengumumkan bahwa kapasitas produksi bahan nuklir tingkat senjata negaranya meningkat lebih dari dua kali lipat dalam lima tahun terakhir, saat ia menginspeksi fasilitas produksi bahan nuklir yang baru beroperasi, demikian dilaporkan media pemerintah, Kamis (4/6/2026).
Dalam kunjungannya pada Rabu (3/6), Kim mendapat paparan mengenai rencana produksi jangka panjang fasilitas tersebut dan menyerukan penguatan kekuatan nuklir Korea Utara secara eksponensial, menurut Kantor Berita Pusat Korea (KCNA). Sebuah foto yang dirilis bersamaan mengindikasikan bahwa pabrik baru itu, yang dilengkapi banyak mesin sentrifugal, kemungkinan digunakan untuk memperkaya uranium. Lokasi pabrik tersebut masih belum diketahui.
Kim, seperti dikutip KCNA, menyatakan bahwa "potensi ancaman dan krisis jangka panjang yang tidak terduga semakin menekankan urgensi dan tanggung jawab misi bersejarah untuk memperkuat pencegahan perang nuklir secara berkelanjutan dan dipercepat." Ia menambahkan bahwa merupakan tugas negara "untuk lebih memperluas dan memperkuat kekuatan nuklir negara, poros dalam implementasi strategi untuk mencegah perang dan berperang, serta menjalankan sepenuhnya posisi sebagai negara bersenjata nuklir."
Pernyataan ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan di Semenanjung Korea. Awal tahun ini, Kim menegaskan kembali status Korea Utara sebagai negara nuklir dan menyebut Korea Selatan sebagai negara "paling bermusuhan". Pada September tahun lalu, ia mengisyaratkan kemungkinan pembicaraan kembali dengan Washington jika Amerika Serikat tidak lagi menuntut denuklirisasi Korea Utara.
Sebelumnya, pada Januari 2025, KCNA melaporkan kunjungan Kim ke pangkalan produksi bahan nuklir dan Institut Senjata Nuklir. Badan Energi Atom Internasional (IAEA) pada Juni tahun lalu menduga Korea Utara sedang membangun fasilitas pengayaan uranium baru di Yongbyon, barat laut negara itu, yang memiliki fitur serupa dengan pabrik pengayaan yang sudah ada di Kangson, dekat Pyongyang. Selain dua lokasi tersebut, Menteri Unifikasi Korea Selatan Chung Dong Young juga mengindikasikan adanya fasilitas pengayaan uranium lain di Kusong, barat laut Korea Utara. Kantor Berita Yonhap Korea Selatan melaporkan bahwa Kim kali ini mungkin mengunjungi fasilitas baru yang berbeda dari ketiga lokasi tersebut.
Bagi Indonesia, eskalasi nuklir di Semenanjung Korea menjadi perhatian serius. Sebagai negara yang aktif dalam mendorong perdamaian dan stabilitas kawasan Asia Timur melalui ASEAN, Indonesia berkepentingan agar Semenanjung Korea tetap bebas senjata nuklir. Pengembangan nuklir Korea Utara yang semakin agresif berpotensi memicu perlombaan senjata di kawasan dan mengganggu stabilitas ekonomi serta keamanan regional. Indonesia perlu memperkuat diplomasi multilateral dan mendorong dialog antara Korea Utara, Korea Selatan, dan Amerika Serikat untuk mencegah eskalasi lebih lanjut.
Ke depan, langkah Korea Utara ini akan menjadi ujian bagi komunitas internasional, terutama Dewan Keamanan PBB, dalam menegakkan resolusi sanksi. Apakah negara-negara besar akan mengambil tindakan tegas atau justru membuka ruang negosiasi baru? Jawabannya akan menentukan arah stabilitas keamanan di Asia Timur dan memengaruhi posisi Indonesia dalam menjaga perdamaian kawasan.


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/1606030/original/060199800_1495805023-news-story-kenapa-soekarno-gemar-memakai-jas-bergaya-militer-mK8Z6h2EXP.jpg)
