Rusia Hantam Kyiv dan Dnipro, 23 Tewas: Zelenskyy Peringatkan Serangan Susulan
Baca dalam 60 detik
- Serangan rudal dan drone Rusia pada Selasa pagi menewaskan 23 orang di Kyiv dan Dnipro, dengan 130 lainnya luka-luka.
- Presiden Zelenskyy mengungkapkan intelijen menunjukkan kemungkinan serangan besar kedua pada malam yang sama, sementara Ukraina kekurangan sistem pertahanan udara.
- Situasi perang semakin kompleks dengan mandeknya perundingan AS dan meningkatnya serangan Ukraina ke fasilitas minyak Rusia.
Rusia melancarkan serangan rudal dan drone besar-besaran ke sejumlah kota Ukraina pada Selasa (2/6) dini hari, menewaskan sedikitnya 23 orang dan melukai 130 lainnya. Presiden Volodymyr Zelenskyy langsung memperingatkan bahwa Moskow kemungkinan akan melancarkan gelombang serangan kedua pada malam harinya, berdasarkan temuan intelijen Ukraina.
Serangan yang menyasar Kyiv dan Dnipro ini merupakan yang ketiga kalinya dalam sebulan terakhir. Pekan lalu, Kremlin telah memperingatkan akan melakukan "serangan sistematis" sebagai balasan atas dugaan serangan drone Ukraina terhadap asrama di wilayah Luhansk yang dikuasai Rusia. Kyiv membantah menargetkan bangunan tersebut.
Zelenskyy, dalam pidato video malamnya, mendesak warga untuk tidak mengabaikan peringatan serangan udara. "Menurut intelijen kami, serangan besar lainnya mungkin terjadi malam ini. Saya sangat mendorong Anda untuk memperhatikan peringatan serangan udara," ujarnya. Ia juga kembali mengeluhkan minimnya pasokan sistem pertahanan udara, terutama rudal Patriot, yang membuat Ukraina tidak mampu mencegat sebagian besar rudal Rusia.
Kementerian Pertahanan Rusia mengklaim serangan itu menargetkan fasilitas industri pertahanan Ukraina dan berhasil menghantam 10 pabrik militer di Kyiv. Sementara itu, Ukraina juga melancarkan serangan balasan, termasuk terhadap kilang minyak Ilsky di Krasnodar, Rusia selatan, yang terbakar setelah serangan drone. Moskow mengaku telah menembak jatuh 148 drone Ukraina dalam semalam.
Diplomasi penyelesaian konflik masih menemui jalan buntu. Perundingan yang dimediasi Amerika Serikat mandek karena Washington lebih fokus pada isu Iran. Surat permintaan bantuan sistem pertahanan udara yang dikirim Zelenskyy kepada Presiden Donald Trump dan Kongres AS pekan lalu belum mendapat jawaban hingga Senin. Menteri Luar Negeri Ukraina Andrii Sybiha mendesak mitra internasional untuk menjatuhkan sanksi lebih keras dan meningkatkan dukungan militer. "Moskow kalah di medan perang. Tidak ada jumlah rudal yang bisa mengubah ini. Yang bisa kita ubah adalah kemampuan Rusia untuk terus meneror," tulisnya di platform X.
Bagi Indonesia, eskalasi perang Rusia-Ukraina ini kembali mengingatkan pada pentingnya kemandirian energi dan ketahanan pangan nasional. Gangguan pasokan gandum dan minyak dari kawasan Laut Hitam dapat memicu lonjakan harga komoditas global, yang pada akhirnya berdampak pada inflasi dalam negeri. Selain itu, ketegangan geopolitik yang berkepanjangan juga berpotensi mengalihkan perhatian dan bantuan negara-negara maju dari isu-isu pembangunan di Asia Tenggara.
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengutuk keras serangan Rusia dan kembali menyerukan gencatan senjata segera dan tanpa syarat. Namun, dengan kedua belah pihak yang saling menuduh melakukan teror terhadap warga sipil, prospek perdamaian masih jauh dari kata pasti. Akankah gelombang serangan baru benar-benar terjadi, atau justru menjadi momentum bagi komunitas internasional untuk kembali mendorong negosiasi?
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7709284/original/062279400_1780509884-WhatsApp_Image_2026-06-03_at_18.47.12__1_.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7834660/original/000912400_1780655228-cek_fakta_-_sherly_laos.jpg)

