Aitch: Usia Muda Bukan Penghalang, Industri Musik Memaksa Dewasa Lebih Cepat
Baca dalam 60 detik
- Rapper asal Inggris, Aitch, menegaskan bahwa usia muda bukan alasan untuk diremehkan di industri musik, karena pengalaman di lapangan memaksanya tumbuh dewasa lebih cepat.
- Dalam wawancara eksklusif, ia mengungkapkan bahwa banyak figur senior kerap bersikap menggurui, namun ia menolak diperlakukan seperti anak-anak.
- Aitch mendorong musisi pemula untuk memulai karier sedini mungkin dan setia pada ciri khas suara mereka, bukan sekadar meniru artis lain.

Di tengah hiruk-pikuk industri musik global yang kerap didominasi nama-nama senior, musisi muda Inggris, Aitch, justru tampil dengan sikap percaya diri yang sulit diabaikan. Dalam sebuah wawancara, ia menegaskan bahwa usia bukanlah parameter kedewasaan—terutama ketika seseorang sudah berkecimpung di dunia profesional sejak belia.
Menurut Aitch, banyak orang, khususnya yang lebih tua, kerap merasa berhak mengatur dan mengarahkan dirinya hanya karena faktor umur. Namun, ia menolak pandangan tersebut. “Bekerja di musik memaksamu untuk dewasa lebih cepat. Kamu bertemu dengan banyak orang, mengambil keputusan besar, dan belajar dari kegagalan. Itu bukan sesuatu yang bisa diukur dengan angka,” ujarnya.
Fenomena ini sebenarnya tidak asing di Indonesia. Banyak musisi muda Tanah Air yang juga menghadapi stigma serupa—dianggap belum cukup matang untuk serius berkarier. Padahal, seperti Aitch, mereka justru menunjukkan profesionalisme dan ketahanan mental yang tinggi. Industri musik Indonesia, yang semakin terbuka dengan platform digital, memberi ruang bagi talenta muda untuk bersaing tanpa harus menunggu usia tertentu.
Dalam wawancara tersebut, Aitch juga mengungkapkan bahwa ia tengah mengerjakan sejumlah fitur kolaborasi, meski enggan membocorkan detailnya. Ia lebih memilih fokus pada karya yang sedang berjalan daripada membangun ekspektasi publik. Sikap ini mencerminkan kedewasaan dalam mengelola karier—sebuah pelajaran berharga bagi musisi mana pun, termasuk di Indonesia, di mana godaan untuk segera merilis banyak proyek sering kali mengorbankan kualitas.
Ketika ditanya soal nasihat untuk musisi pemula, Aitch memberikan jawaban yang lugas: mulailah sedini mungkin dan jangan pernah meninggalkan identitas musikmu. “Meniru orang lain tidak akan membawamu jauh. Yang membuatmu serius adalah ketika kamu punya suara yang otentik,” tegasnya. Ia menambahkan, banyak pemula yang terjebak dalam slogan klise, padahal yang dibutuhkan adalah langkah konkret—seperti rajin mengunggah karya di platform digital, membangun jaringan, dan terus belajar dari feedback.
Di Indonesia, nasihat ini relevan mengingat ekosistem musik digital yang semakin kompetitif. Banyak artis baru yang sukses justru karena berani tampil beda, seperti Nadin Amizah dengan lirik puitis atau Hindia dengan narasi sosial yang kuat. Mereka membuktikan bahwa autentisitas adalah kunci untuk membangun basis penggemar yang loyal.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah: akankah industri musik Indonesia semakin memberi ruang bagi musisi muda untuk tumbuh tanpa dibatasi stereotip usia? Atau justru stigma lama masih akan menghantui? Yang jelas, Aitch telah menunjukkan bahwa usia hanyalah angka—yang terpenting adalah bagaimana seseorang memanfaatkan pengalaman dan bakatnya.