Kenaikan Harga 20 Persen, Penjualan Switch 2 di Jepang Anjlok 87 Persen dalam Sepekan
Baca dalam 60 detik
- Nintendo menaikkan harga Switch 2 di Jepang dari ยฅ50.000 menjadi ยฅ60.000 pada 25 Mei 2026, memicu penurunan penjualan mingguan hingga 87 persen.
- Penjualan Switch 2 merosot dari 247.880 unit menjadi hanya 31.751 unit dalam sepekan pasca-kenaikan harga, sementara Switch 1 juga ikut terpengaruh.
- Dengan harga global US$499, Nintendo harus mengandalkan game eksklusif besar seperti Zelda dan Mario untuk memulihkan minat konsumen.

Keputusan Nintendo menaikkan harga konsol Switch 2 di Jepang pada akhir Mei 2026 langsung berbuah petaka. Dalam sepekan setelah harga melonjak 20 persen, penjualan konsol generasi terbaru itu ambrol hingga 87 persen, menjadi sinyal peringatan bagi strategi harga perusahaan di tengah tekanan ekonomi global.
Berdasarkan data Famitsu yang dirilis awal Juni, hanya 31.751 unit Switch 2 terjual di Jepang pada periode 25โ31 Mei 2026. Angka itu merosot drastis dibandingkan pekan sebelumnya yang mencapai 247.880 unit. Kenaikan harga dari ยฅ50.000 (sekitar Rp5,4 juta) menjadi ยฅ60.000 (Rp6,5 juta) disebut sebagai pemicu utama, terutama karena daya beli masyarakat Jepang sedang tertekan oleh inflasi dan pelemahan yen.
Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh Switch 2. Konsol pendahulunya, Switch 1, juga mengalami penurunan penjualan yang signifikan: hanya 229 unit terjual pada pekan yang sama, bandingkan dengan 2.731 unit pada pekan sebelumnya. Fenomena ini menunjukkan bahwa kenaikan harga konsol flagship turut meredam minat terhadap ekosistem Nintendo secara keseluruhan.
Bagi pasar Indonesia, situasi ini patut dicermati. Hingga saat ini, Nintendo belum mengumumkan harga resmi Switch 2 untuk Asia Tenggara. Namun, dengan patokan harga global US$499 (sekitar Rp7,5 juta), konsol ini diprediksi akan dibanderol lebih mahal dari pendahulunya yang sempat dijual di kisaran Rp4โ5 juta. Jika kebijakan harga Jepang menjadi preseden, konsumen Indonesia mungkin harus bersiap menghadapi harga yang lebih tinggi, terutama jika nilai tukar rupiah terus melemah.
Menurut analis industri game, langkah Nintendo menaikkan harga di Jepang merupakan uji coba sebelum peluncuran global pada September 2026. โMereka ingin melihat seberapa elastis permintaan konsumen. Hasilnya jelas: konsumen Jepang sangat sensitif terhadap harga,โ ujar seorang pengamat pasar yang enggan disebut namanya. Tantangan terbesar Nintendo kini adalah meyakinkan konsumen bahwa Switch 2 layak dibeli dengan harga premium, terutama tanpa kehadiran game eksklusik besar di masa awal peluncuran.
Nintendo sejatinya mengandalkan judul-judul andalan seperti The Legend of Zelda dan Super Mario untuk mendongkrak daya tarik Switch 2. Namun, hingga saat ini belum ada tanggal pasti kapan game-game tersebut akan tersedia. Jika tidak segera menghadirkan konten eksklusif yang kuat, penurunan penjualan di Jepang bisa menjadi awal dari tren serupa di pasar global.
Pertanyaan besarnya, apakah Nintendo akan mempertahankan harga tinggi atau justru menyesuaikan strategi harga di masing-masing negara? Keputusan dalam beberapa bulan ke depan akan menentukan apakah Switch 2 mampu mengulang kesuksesan pendahulunya atau justru menjadi konsol paling mahal yang gagal menarik minat pasar massal.



