Joshua Beban Berat di Pundak: Kemenangan Lawan Prenga Syarat Mutlak Hadapi Fury
Baca dalam 60 detik
- Anthony Joshua menjalani laga comeback melawan Kristian Prenga pada 25 Juli di Riyadh, dengan motivasi utama mendedikasikan pertarungan untuk orang tua dua sahabatnya yang tewas dalam kecelakaan mobil di Nigeria.
- Kemenangan atas petinju Albania yang belum terkalahkan dengan 20 KO itu menjadi prasyarat untuk mewujudkan duel super melawan Tyson Fury yang sudah disepakati secara prinsip, dengan target Oktober atau November.
- Joshua mengaku telah meningkatkan kecerdasan bertarung dan pertahanan berkat latihan bersama Oleksandr Usyk, namun tekanan psikologis pasca tragedi pribadi menjadi ujian tersendiri bagi sang petinju.

Anthony Joshua mengusung misi ganda saat naik ring melawan Kristian Prenga di Riyadh, 25 Juli mendatang: membuktikan dirinya masih layak menjadi penantang gelar kelas berat, dan yang lebih penting, menjadi pilar bagi orang tua dua sahabatnya yang meninggal dalam kecelakaan mobil di Nigeria, Desember lalu. Bagi petinju 36 tahun itu, laga ini bukan sekadar ajang unjuk kekuatan, melainkan panggilan jiwa sebagai seorang prajurit.
Joshua, yang saat itu menjadi penumpang dan mengalami cedera ringan, mengaku belum sepenuhnya pulih secara emosional. "Kau tidak pernah benar-benar mengatasinya, tapi kau mendapat perspektif baru dalam hidup," ujarnya dalam podcast 5 Live Boxing. "Sebagai seorang prajurit, saya berdiri tegar untuk orang tua mereka. Ini bukan tentang saya." Pernyataan itu muncul dalam konferensi pers di London, Senin lalu, saat Joshua dan Prenga saling berhadapan untuk pertama kalinya.
Di luar dimensi personal, laga ini memiliki bobot karier yang sangat besar. Kemenangan akan membuka jalan menuju duel yang sudah lama dinanti: Anthony Joshua versus Tyson Fury. Kesepakatan prinsip antara kedua kubu sudah terjalin, dengan perkiraan pendapatan rekor bagi masing-masing petinju. Target waktu pertarungan adalah Oktober atau November tahun ini. Namun, semua itu hanya akan terwujud jika Joshua mampu melewati hadangan Prenga. Sementara itu, Fury dikabarkan juga akan menjalani laga pemanasan, kemungkinan di Dublin pada 1 Agustus, melawan lawan yang belum diumumkan.
Promotor Eddie Hearn mengungkapkan bahwa Joshua dalam kondisi "bahagia dan bersemangat" setelah mengalahkan Jake Paul. Rencana awal adalah menghadapi Rico Verhoeven pada Maret, lalu Fury pada Agustus. Namun, kecelakaan yang menewaskan Sina Ghami dan Latif Ayodele mengubah segalanya. "Dan kemudian dunia runtuh," kata Hearn. Meski demikian, Joshua tampil tenang dan fokus dalam konferensi pers, mengenakan tracksuit dan kacamata hitam. "Api itu masih menyala. Saya di sini bukan untuk bercanda," tegasnya.
Joshua juga berbicara tentang ambisinya menjadi juara dunia kelas berat tiga kali, serta pengalamannya berlatih bersama mantan rivalnya, Oleksandr Usyk. Ia mengaku telah meningkatkan "kebugaran tinju, IQ, dan pertahanan" berkat kerja sama dengan petinju Ukraina itu. "Sekarang saya benar-benar bisa membaca pukulan lagi. Mata saya sudah terfokus penuh," ujarnya.
Di sisi lain, Prenga datang dengan rekor mencolok: 20 kemenangan, semuanya dengan KO. Petinju 35 tahun yang kini tinggal di New Jersey, AS, ini mengaku telah berlatih lebih keras dari sebelumnya. "Saya akan mengejutkan dunia," katanya. Tiga pertarungan terakhirnya berakhir di ronde pertama. Namun, ia belum pernah menghadapi lawan sekelas Joshua. Secara teori, Joshua seharusnya bisa mengalahkannya dengan mudah. Tapi tinju kelas berat penuh kejutan; tak banyak yang menduga kickboxer Verhoeven akan menyulitkan Usyk beberapa pekan lalu.
"Saya senang dia meremehkan saya," kata Prenga, yang berjanji tidak akan memberi hormat pada Joshua saat bel berbunyi. Joshua menjawab dengan tenang, "Saya ingin kau masuk ring tanpa rasa hormat dan lakukan apa yang kauanggap terbaik. Karena di seberang ring ada seseorang yang akan melakukan hal yang sama." Keduanya beradu pandang selama lebih dari satu menit, sebelum akhirnya berjabat tangan.
Bagi penggemar tinju Indonesia, laga Joshua vs Prenga mungkin tidak sepopuler duel melawan Fury. Namun, pertarungan ini memiliki arti penting: menentukan apakah mega-duel yang telah dinanti selama satu dekade itu benar-benar akan terjadi. Jika Joshua lengah, mimpi mempertemukan dua raksasa Inggris itu bisa buyar. Sebaliknya, jika ia menang dengan meyakinkan, panggung menuju salah satu pertarungan terbesar dalam sejarah tinju kelas berat akan terbuka lebar. Akankah Joshua mampu menepis trauma pribadi dan tekanan ekspektasi untuk kembali ke jalur juara?



