Perang Ukraina-Rusia Warnai Semifinal Prancis Terbuka: Kostyuk Vs Andreeva
Baca dalam 60 detik
- Marta Kostyuk dan Mirra Andreeva akan bertemu di semifinal Prancis Terbuka dengan latar perang Rusia-Ukraina yang masih berkecamuk.
- Kostyuk, yang vokal mengecam invasi, menghadapi Andreeva yang enggan berkomentar soal perang; pertandingan ini mengulang final Madrid Open bulan lalu.
- Pemenang laga ini berpotensi bertemu petenis Rusia lainnya, Diana Shnaider, di final, mempertegas dominasi politik di turnamen tenis.

Konflik Rusia-Ukraina kembali menjadi sorotan di dunia tenis ketika Marta Kostyuk dari Ukraina berhadapan dengan Mirra Andreeva dari Rusia pada semifinal Prancis Terbuka, Kamis (5/6). Pertandingan ini bukan sekadar adu taktik di lapangan tanah liat Roland Garros, melainkan juga cerminan ketegangan geopolitik yang masih membara.
Kostyuk, 23 tahun, adalah salah satu atlet Ukraina yang paling vokal mengecam invasi Rusia sejak Februari 2022. Pekan lalu, ia mengungkapkan bahwa sebuah rudal menghantam bangunan hanya 100 meter dari rumah keluarganya di Kyiv. "Hal terbesar yang bisa saya lakukan adalah duduk di sini dan berbicara tentang perang agar lebih banyak orang mengetahuinya dan tidak terbiasa dengan kehidupan mengerikan ini," ujar Kostyuk usai mengalahkan rekan senegaranya, Elina Svitolina, di perempat final.
Di sisi lain, Andreeva yang baru berusia 19 tahun konsisten menghindari diskusi soal perang. "Tidak masalah siapa yang saya lawan. Saya benar-benar berusaha bermain melawan bola yang datang ke arah saya," katanya. Ini adalah semifinal Prancis Terbuka kedua bagi Andreeva setelah mencapai babak yang sama pada 2024.
Pertemuan ini merupakan yang kedua dalam beberapa pekan terakhir. Pada final Madrid Open bulan lalu, Kostyuk mengalahkan Andreeva 6-3, 7-5 untuk meraih gelar terbesar dalam kariernya. Saat itu, tidak ada jabat tangan tradisional setelah pertandingan, sebuah sikap yang diambil petenis Ukraina sejak invasi Rusia dimulai. Dipastikan hal yang sama akan terjadi di Roland Garros.
Jika Kostyuk menang, ia berpeluang menghadapi petenis Rusia lainnya, Diana Shnaider, di final. Shnaider, 22 tahun, melaju ke semifinal Grand Slam pertamanya setelah mengejutkan unggulan teratas asal Belarus, Aryna Sabalenka. Sebelumnya, Shnaider dituduh oleh lawannya asal Ukraina, Oleksandra Oliynykova, mendukung invasi Rusia karena tampil di sebuah eksibisi di St Petersburg yang disponsori Gazprom. Oliynykova bahkan menyamakan tindakan itu dengan bermain di Jerman Nazi. Shnaider membela diri dengan mengatakan itu adalah kesempatan satu-satunya untuk bermain di depan keluarganya.
Kostyuk mengkritik sikap diam petenis Rusia lainnya. "Mereka semua sudah dewasa. Mereka tahu apa yang terjadi. Mereka punya ponsel, Instagram, berita. Saya tidak tahu bagaimana mereka bisa tidur nyenyak di malam hari ketika tahu ini terjadi dan tidak punya komentar," ujarnya. Kostyuk mendedikasikan setiap kemenangannya di Roland Garros untuk negaranya.
Mantan petenis top dunia asal Slovakia, Daniela Hantuchova, menilai motivasi petenis dari negara yang dilanda konflik sangat kuat. "Keinginan ini muncul karena tidak ada pilihan lain, ketika perang ada di halaman belakang rumahmu dan olahraga adalah satu-satunya cara untuk melarikan diri," katanya di BBC Radio 5 Live. Hantuchova menambahkan bahwa titik awal yang sulit menciptakan rasa lapar dan kemauan untuk melakukan apa pun demi meraih sukses.
Dengan Shnaider yang akan menghadapi pemain kualifikasi asal Polandia, Maja Chwalinska, di semifinal lainnya, persebaran geografis semifinalis tahun ini sangat terkonsentrasi. Keempatnya memiliki latar belakang yang unik, namun Hantuchova percaya ada mentalitas bersama yang membantu mereka melawan rintangan. Siapa pun yang mampu menjaga fokus terbaik selama tiga hari ke depan akan menjadi juara Grand Slam pertama kalinya, sebuah skenario yang sulit diprediksi tiga pekan lalu.
Pertanyaannya, akankah ketegangan politik justru memicu performa terbaik atau malah mengganggu konsentrasi para petenis? Semifinal Prancis Terbuka kali ini menjadi ujian tidak hanya bagi keterampilan tenis, tetapi juga ketahanan mental di tengah tekanan geopolitik.



