Prabowo Gandeng Megawati di Upacara Pancasila: Sinyal Rekonsiliasi Politik?
Baca dalam 60 detik
- Presiden Prabowo Subianto dan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri tampak akrab dalam peringatan Hari Lahir Pancasila, dengan momen menggandeng tangan yang mencuri perhatian publik.
- Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto menilai kedekatan personal kedua tokoh menjadi modal strategis untuk membahas agenda kebangsaan, bukan sekadar seremoni.
- Pertemuan ini memicu spekulasi tentang kemungkinan rekonsiliasi politik antara pemerintah dan PDIP, yang selama ini berseberangan di panggung elektoral.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7513999/original/018557400_1780286066-Gandeng.jpeg)
Presiden Prabowo Subianto dan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri berjalan bergandengan tangan setelah upacara peringatan Hari Lahir Pancasila di Gedung Pancasila, Jakarta, Senin (1/6/2026). Gestur yang terekam kamera itu langsung menjadi sorotan, mengingat keduanya pernah bersaing ketat dalam kontestasi politik nasional.
Momen tersebut terjadi saat Prabowo, yang memimpin upacara, menyalami para tamu undangan. Setelah bersalaman dengan Jusuf Kalla, ia mendekati Megawati yang duduk di samping mantan wakil presiden itu. Keduanya kemudian berjalan bersama menuju area dalam gedung, dengan Prabowo menggandeng tangan Megawati yang mengenakan kebaya merah. Suasana tampak cair; Megawati sempat bergurau menarik tangan Prabowo agar berjalan lebih dulu.
Sekretaris Jenderal PDIP, Hasto Kristiyanto, menilai kehadiran Megawati dalam acara kenegaraan itu adalah bagian dari tugasnya sebagai Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP). Namun, ia juga menggarisbawahi makna lebih luas dari pertemuan tersebut. "Beliau adalah Presiden kelima yang punya banyak pengalaman dan juga memiliki hubungan baik kedekatan secara personal dengan Presiden Prabowo," ujar Hasto di Lenteng Agung, Jakarta Selatan.
Menurut Hasto, hubungan personal yang solid antara kedua tokoh menjadi modal penting untuk membahas persoalan strategis bangsa. Ia berharap pertemuan itu tidak berhenti pada seremoni, melainkan dimanfaatkan untuk merumuskan arah kebijakan ke depan. "Sehingga pertemuan itu kita harapkan akan membahas hal-hal yang strategis tentang berbagai arah bangsa dan negara ke depan," kata dia.
Pertemuan ini memicu spekulasi mengenai kemungkinan rekonsiliasi politik antara pemerintah Prabowo-Gibran dan PDIP, yang selama ini menjadi partai oposisi terbesar. Sejak Pilpres 2024, hubungan kedua kubu memang menunjukkan tanda-tanda pencairan, meski belum ada kesepakatan formal. Pengamat politik menilai bahwa momen seperti Hari Lahir Pancasila bisa menjadi wadah untuk membangun komunikasi tanpa tekanan elektoral.
Bagi publik Indonesia, isyarat kerukunan di level elite ini penting karena dapat meredam polarisasi yang kerap terjadi pascapemilu. Apalagi, di tengah tantangan ekonomi global dan dinamika geopolitik, stabilitas politik domestik menjadi prasyarat untuk menarik investasi dan menjaga pertumbuhan. Jika Prabowo dan Megawati mampu menjembatani perbedaan, bukan tidak mungkin koalisi besar lintas partai akan terbentuk.
Namun, hingga saat ini belum ada pernyataan resmi dari kedua pihak mengenai agenda spesifik yang dibahas. Hasto hanya menekankan bahwa pertemuan itu bersifat informal dan lebih pada silaturahmi kebangsaan. Pertanyaannya, akankah momen menggandeng tangan ini menjadi awal dari babak baru politik Indonesia, atau sekadar foto seremoni tanpa tindak lanjut?

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7684313/original/037026700_1780480342-IMG_1064.jpeg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7660064/original/061589800_1780453537-IMG_0808.jpeg)