India Resmi Jual Rudal BrahMos ke Vietnam, Giliran Indonesia Dibidik
Baca dalam 60 detik
- Kesepakatan rudal BrahMos antara India dan Vietnam bernilai sekitar Rp9,8 triliun, mencakup pelatihan dan dukungan logistik.
- Rudal supersonik ini telah teruji dalam operasi tempur India di Kashmir pada 2025, menjadi daya tarik utama bagi negara-negara Asia Tenggara.
- Langkah India membidik Indonesia sebagai pembeli berikutnya memperkuat dinamika persaingan militer di kawasan, seiring meningkatnya ketegangan di Laut China Selatan.

India secara resmi mengumumkan penjualan rudal jelajah supersonik BrahMos ke Vietnam, dan kini membidik Indonesia sebagai calon pembeli berikutnya. Pengumuman itu disampaikan seorang pejabat senior Kementerian Pertahanan India dalam forum keamanan Shangri-La Dialogue di Singapura, menandai babak baru dalam strategi ekspor alutsista New Delhi ke Asia Tenggara.
Nilai kesepakatan dengan Vietnam diperkirakan mencapai 60 miliar rupee atau sekitar 629 juta dolar AS, termasuk paket pelatihan dan dukungan logistik. Angka tersebut menjadikan kontrak ini sebagai salah satu transfer teknologi militer terbesar India ke kawasan. Bagi Vietnam, akuisisi BrahMos menjadi langkah strategis untuk memperkuat pertahanan pesisir di tengah sengketa Laut China Selatan yang kian memanas.
BrahMos, rudal yang dikembangkan bersama Rusia, memiliki jangkauan hingga 290 kilometer dan mampu terbang dengan kecepatan Mach 2,8. Keunggulan utamanya adalah kemampuan manuver rendah dan sulit dilacak radar lawan. Daya tarik ekspor rudal ini tidak hanya pada spesifikasi teknis, tetapi juga rekam jejak tempurnya. BrahMos pertama kali digunakan dalam operasi militer India di Kashmir pada Mei 2025, yang dikenal sebagai Operasi Sindoor, setelah serangan militan di Pahalgam yang menewaskan 26 warga sipil.
Langkah India membidik Indonesia sebagai pasar potensial berikutnya tidak terlepas dari hubungan pertahanan yang kian erat antara kedua negara. Dalam beberapa tahun terakhir, Jakarta dan New Delhi telah meningkatkan kerja sama militer, termasuk latihan bersama dan dialog keamanan. Bagi Indonesia, rudal BrahMos dapat menjadi pilihan untuk memperbarui arsenal pertahanan udara dan anti-kapal yang sebagian besar masih berasal dari era Perang Dingin. Namun, keputusan pembelian akan bergantung pada anggaran pertahanan yang terbatas dan kebutuhan untuk menjaga keseimbangan hubungan dengan negara-negara besar lainnya, termasuk China dan Amerika Serikat.
Menurut analis militer di Singapura, ekspor BrahMos ke Vietnam dan potensi penjualan ke Indonesia menunjukkan ambisi India untuk menjadi pemasok alutsista utama di Asia Tenggara. โIndia tidak hanya menjual senjata, tetapi juga menawarkan kemitraan strategis yang dapat mengurangi ketergantungan negara-negara ASEAN pada pemasok tradisional seperti AS, Rusia, dan China,โ ujar pengamat tersebut. Namun, ia juga mengingatkan bahwa persaingan dengan China di kawasan akan semakin ketat, terutama jika Beijing merespons dengan menawarkan sistem rudal serupa ke negara-negara tetangga.
Kesepakatan dengan Vietnam sendiri masih memerlukan persetujuan teknis dan politik lebih lanjut, termasuk izin ekspor dari pemerintah India. Jika terealisasi, pengiriman rudal diperkirakan dimulai dalam dua hingga tiga tahun ke depan. Pertanyaan besarnya, mampukah Indonesia menyusul Vietnam dalam daftar pembeli BrahMos, atau justru akan memilih sistem pertahanan lain yang lebih sesuai dengan postur militer dan politik luar negerinya yang bebas aktif?
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7660064/original/061589800_1780453537-IMG_0808.jpeg)


