Ledakan Tambang Shanxi Tewaskan 82 Orang: Tragedi di Balik Transisi Energi China
Baca dalam 60 detik
- Ledakan tambang Liushenyu di Shanxi menewaskan 82 orang dan melukai 120 lainnya, menjadikannya bencana pertambangan terburuk China dalam 15 tahun terakhir.
- Pelanggaran keselamatan massal terungkap, termasuk pekerja tanpa alat pelacak, peta tambang palsu, dan penambangan ilegal yang sengaja disembunyikan.
- Insiden ini menggarisbawahi ketergantungan China pada batu bara meskipun ambisinya dalam energi hijau, serta kegagalan sistem pengawasan yang telah direformasi.

Ledakan dahsyat di tambang batu bara Liushenyu, Provinsi Shanxi, pada 22 Mei lalu menewaskan 82 orang dan melukai lebih dari 120 pekerja, menjadikannya bencana pertambangan paling mematikan di China sejak 2009. Peristiwa ini terjadi di tengah gencarnya kampanye transisi energi hijau Beijing, sekaligus mengungkap praktik berbahaya yang masih mengakar di industri batu bara negeri itu.
Para penyintas menggambarkan momen mengerikan saat ledakan mengguncang terowongan. "Debu sangat tebal, saya tidak bisa melihat siapa pun. Setelah berlari lebih dari sepuluh menit, kesadaran saya mulai kabur. Saya ketakutan," ujar seorang korban selamat kepada stasiun televisi pemerintah CCTV. Hingga kini, otoritas setempat belum mengumumkan penyebab pasti ledakan, namun para ahli menduga akumulasi gas metana atau debu batu bara yang bersentuhan dengan sumber api menjadi pemicu utama.
Investigasi awal mengungkap sederet pelanggaran serius oleh Tongzhou Group, perusahaan swasta pengelola tambang. Laporan media pemerintah menyebutkan, hanya separuh dari pekerja bawah tanah yang terdaftar secara resmi pada hari kejadian. Banyak pekerja tidak membawa alat pelacak wajib karena perusahaan sengaja menambang lapisan batu bara yang tidak disetujui. "Memakai alat pelacak akan membongkar praktik ilegal itu," kata seorang pekerja kepada media lokal Lengshan Record. Selain itu, peta tambang yang tidak akurat dan adanya terowongan rahasia turut mempersulit upaya penyelamatan.
Tragedi ini memicu kembali perdebatan tentang keselamatan pertambangan di China. Meskipun angka kematian di sektor ini telah turun lebih dari 90% sejak 1990 berkat reformasi keselamatan, insiden Liushenyu menunjukkan bahwa pengawasan masih longgar. Hong Chen, profesor di Institut Keamanan Nasional dan Pembangunan Hijau Universitas Jiangnan, menegaskan, "Dengan sistem manajemen dan teknis yang ada saat ini, kecelakaan ini seharusnya tidak terjadi." Tambang Liushenyu sendiri sudah masuk dalam daftar tambang berbahaya pada 2024 oleh Administrasi Keselamatan Tambang Nasional China, dan Tongzhou Group telah dua kali dikenai sanksi pada tahun sebelumnya.
Bagi Indonesia, tragedi ini menjadi pengingat akan risiko serupa di industri pertambangan dalam negeri. Meskipun Indonesia telah menerapkan sistem keselamatan tambang yang ketat, praktik penambangan ilegal dan pelanggaran prosedur masih kerap terjadi. Kasus Liushenyu menunjukkan bahwa lemahnya pengawasan dan budaya keselamatan yang buruk dapat berakibat fatal, terutama ketika tekanan ekonomi mendorong pengabaian aturan. Seperti di Shanxi, banyak pekerja tambang di Indonesia juga berasal dari daerah dengan sedikit alternatif pekerjaan, sehingga mereka rela mengambil risiko demi menghidupi keluarga.
Di tengah dorongan global menuju energi bersih, China tetap menjadikan batu bara sebagai "batu pemberat" ketahanan energinya. Roc Shi, profesor ekonomi energi dan lingkungan dari University of Technology Sydney, menilai, "Transisi hijau China tidak membuat batu bara lenyap, tetapi mengubah perannya dari mesin pertumbuhan menjadi penyangga keamanan energi." Namun, ledakan Liushenyu membuktikan bahwa selama batu bara masih menjadi tulang punggung, keselamatan pekerja tidak boleh dikorbankan. Pertanyaan yang tersisa: apakah reformasi keselamatan yang ada cukup kuat untuk mencegah tragedi serupa, atau akankah nyawa pekerja terus menjadi taruhan dalam industri yang tak pernah benar-benar aman?
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5508083/original/075320600_1771564548-Ahok_-_klaim_bantuan_facebook.jpg)


