Guncangan di Sri Lanka: Bhikkhu Senior Tersangka Pencabulan Anak Digantung Tugasnya
Baca dalam 60 detik
- Pallegama Hemarathana, bhikkhu berusia 71 tahun, diskors dari jabatannya sebagai kepala penjaga pohon suci Bodhi setelah dituduh mencabuli anak di bawah umur.
- Ini adalah kasus pelecehan seksual paling senior yang melibatkan pendeta Buddha di Sri Lanka, memicu kehebohan di negara yang sangat religius.
- Skorsing dijatuhkan pada hari perayaan Vesak, menyoroti kontras antara kesucian hari raya dan skandal yang mengguncang institusi keagamaan.

Kepemimpinan Buddha Sri Lanka mengambil langkah langka dengan menskors seorang bhikkhu senior yang dituduh melakukan pelecehan seksual terhadap seorang gadis berusia 11 tahun. Pallegama Hemarathana, 71 tahun, dicopot dari tugasnya sebagai kepala penjaga pohon ficus suci di Kuil Jaya Sri Maha Bodhi, Anuradhapura, pada Sabtu (30/5) โ bertepatan dengan perayaan Vesak, hari suci umat Buddha.
Dewan Bhikkhu Cabang Malwatte mengumumkan bahwa Hemarathana akan diskors hingga proses hukum terhadapnya selesai. Ia ditangkap pada 9 Mei lalu atas tuduhan mencabuli korban pada 2022 di kompleks kuil yang menjadi salah satu tempat ziarah utama umat Buddha di Sri Lanka. Meski telah dibebaskan dengan jaminan, pengadilan melarangnya bepergian ke luar negeri.
Kasus ini mengguncang Sri Lanka yang mayoritas penduduknya beragama Buddha dan sangat konservatif. Hemarathana adalah bhikkhu paling senior yang pernah dituduh melakukan kejahatan seksual terhadap anak di negara tersebut. Sebelumnya, beberapa kasus pelecehan oleh pendeta juga muncul, namun tak ada yang melibatkan tokoh setinggi Hemarathana.
Konteks Indonesia: Kasus ini relevan dengan dinamika serupa di Indonesia, di mana oknum pemuka agama juga kerap tersandung kasus pelecehan seksual. Di Indonesia, kasus seperti yang menimpa pimpinan pondok pesantren atau pendeta sering kali memicu perdebatan tentang peran negara dalam mengadili pelaku yang berlindung di balik institusi agama. Sri Lanka, seperti Indonesia, menghadapi tantangan dalam menyeimbangkan otoritas agama dan penegakan hukum.
Menurut analis, langkah Dewan Bhikkhu menunjukkan adanya tekanan publik yang kuat untuk membersihkan citra institusi keagamaan. Namun, skeptisisme tetap muncul karena dalam kasus serupa sebelumnya, sanksi internal jarang dijatuhkan. "Ini adalah ujian bagi kredibilitas kepemimpinan Buddha Sri Lanka," ujar seorang pengamat agama di Kolombo.
Ke depan, pertanyaan besar adalah apakah proses hukum terhadap Hemarathana akan berjalan transparan dan menghasilkan putusan yang adil, atau justru terhenti karena pengaruh hierarki agama. Kasus ini juga membuka diskusi lebih luas tentang perlindungan anak di lingkungan keagamaan, baik di Sri Lanka maupun di negara lain seperti Indonesia.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7660064/original/061589800_1780453537-IMG_0808.jpeg)


