Tangis Megawati Mengenang Ryamizard: Prajurit yang Tak Pernah Ragu Bantu Rakyat
Baca dalam 60 detik
- Megawati Soekarnoputri menangis saat mengenang jasa Ryamizard Ryacudu, terutama saat dirinya sebagai KSAD membantu penanganan bencana di Aceh.
- Ryamizard dikenang sebagai prajurit negarawan yang sigap mengerahkan batalyon Zeni untuk memasang jembatan Bailey darurat pasca-bencana.
- Kepergian mantan Menhan itu meninggalkan kesan mendalam bagi Megawati, yang menyebutnya sebagai sahabat setia dan patriot sejati.

Megawati Soekarnoputri tak kuasa menahan tangis saat mengenang perjalanan panjang bersama Jenderal TNI (Purn) Ryamizard Ryacudu, yang wafat di usia 76 tahun di RSPAD Gatot Soebroto, Minggu (31/5). Bagi presiden kelima RI itu, Ryamizard bukan sekadar mantan Menteri Pertahanan, melainkan sahabat yang selalu hadir di saat negara membutuhkan.
Dalam pernyataan yang disampaikan di Jakarta, Megawati mengungkapkan duka mendalam atas kepergian almarhum. Ia menyebut Ryamizard sebagai prajurit dengan dedikasi tinggi, yang tidak pernah ragu mengulurkan tangan dalam situasi sulit. Kenangan paling membekas, menurut Megawati, adalah saat penanganan bencana di Aceh beberapa tahun silam.
Kala itu, usai meninjau langsung lokasi terdampak, Megawati melihat kebutuhan mendesak akan jembatan darurat untuk menghubungkan wilayah yang terisolasi. Tanpa berpikir panjang, ia menghubungi Ryamizard yang saat itu menjabat Kepala Staf Angkatan Darat. Responsnya cepat: Ryamizard langsung mengerahkan batalyon Zeni untuk memasang jembatan Bailey, sehingga akses masyarakat segera pulih.
Bagi Megawati, tindakan Ryamizard itu bukan sekadar tugas militer, melainkan wujud kepedulian seorang negarawan. "Pak Ryamizard adalah sosok prajurit negarawan. Beliau teguh pada prinsip, memiliki dedikasi yang tinggi, dan menunjukkan komitmen yang tidak pernah surut kepada negara," ujarnya. Sikap hidup dan pengabdian almarhum, lanjut Megawati, merupakan cerminan patriot sejati.
Ryamizard Ryacudu dikenal luas sebagai tokoh militer yang disiplin dan tegas. Kariernya menanjak hingga menjadi Menteri Pertahanan pada era Presiden Joko Widodo (2014-2019). Namun, di mata Megawati, ia tetaplah sahabat yang setia. "Selamat jalan, temanku. Terima kasih atas persahabatan, pengabdian, dan jasa-jasamu bagi Indonesia," pungkas Megawati sambil terisak.
Kepergian Ryamizard meninggalkan duka tidak hanya bagi keluarga, tetapi juga bagi bangsa yang kehilangan salah satu putra terbaiknya. Di tengah hiruk-pikuk politik, kenangan tentang jembatan Bailey di Aceh menjadi pengingat bahwa di balik seragam militer, ada hati yang selalu untuk rakyat.



