Hasil TKA SD 2026: Yogyakarta Puncaki Peringkat, Rerata Matematika Nasional Jeblok
Baca dalam 60 detik
- Kemendikdasmen merilis hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) SD 2026, dengan DI Yogyakarta menempati peringkat tertinggi di Bahasa Indonesia dan Matematika.
- Rerata nasional Matematika hanya 43,41, jauh di bawah Bahasa Indonesia yang mencapai 60,14, mengindikasikan tantangan serius di bidang numerasi.
- Pejabat Kemendikdasmen menekankan TKA bukan alat pelabelan, melainkan instrumen refleksi untuk memperbaiki kualitas pembelajaran secara menyeluruh.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5313459/original/034909400_1755001147-Screenshot_2025-08-12_184917.jpg)
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mengumumkan hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) jenjang SD tahun 2026, dengan DI Yogyakarta mencatatkan nilai tertinggi di seluruh provinsi untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia dan Matematika. Pengumuman ini menjadi sorotan karena ketimpangan capaian antara dua bidang studi utama di tingkat nasional.
Berdasarkan data resmi yang dirilis Selasa (2/6/2026), rerata nilai nasional TKA SD untuk Bahasa Indonesia mencapai 60,14, sementara Matematika hanya 43,41. Selisih hampir 17 poin ini menggambarkan kesenjangan penguasaan kompetensi dasar yang perlu menjadi perhatian serius para pemangku kebijakan. Kepala Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah (BKPDM) Kemendikdasmen, Toni Toharudin, menegaskan bahwa TKA bukanlah alat untuk memberi cap atau label pada daerah, sekolah, maupun peserta didik. โTKA ini adalah instrumen untuk memotret capaian akademik secara lebih komprehensif,โ ujarnya.
Hasil TKA berdasarkan provinsi menunjukkan dominasi DI Yogyakarta di puncak peringkat, baik untuk Bahasa Indonesia maupun Matematika. Pencapaian ini tidak terlepas dari konsistensi kebijakan pendidikan berbasis budaya dan penguatan kompetensi guru di wilayah tersebut. Sementara itu, provinsi lain seperti Jawa Timur dan DKI Jakarta juga mencatat nilai di atas rerata nasional, namun belum mampu menyaingi capaian Yogyakarta.
Bagi Indonesia, hasil TKA ini memberikan gambaran tentang efektivitas kurikulum dan metode pengajaran di tingkat dasar. Rerata Matematika yang rendah mengindikasikan perlunya penguatan numerasi sejak dini, sejalan dengan program prioritas pemerintah dalam meningkatkan literasi dan numerasi. Toni Toharudin menambahkan bahwa hasil TKA seharusnya menjadi bahan refleksi bersama bagi pemerintah, sekolah, guru, dan pemangku kepentingan lainnya untuk memperkuat upaya peningkatan kualitas pembelajaran.
Ke depan, Kemendikdasmen diharapkan tidak hanya merilis data, tetapi juga menyusun rekomendasi kebijakan berbasis temuan TKA. Apakah pemerintah daerah akan merespons dengan program intervensi khusus, terutama untuk mata pelajaran Matematika yang nilainya masih jauh dari harapan? Hasil TKA ini menjadi panggilan untuk aksi nyata demi masa depan pendidikan Indonesia yang lebih merata dan berkualitas.

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7834190/original/068511000_1780654600-IMG_2910.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7821886/original/018286300_1780640642-13bfc215-5e28-4ab4-bf54-0689360bdd45.jpg)